Boru Saniang Naga

Boru Saniang Naga adalah salah satu figur penting dalam mitologi Batak kuno. Ia dikenal sebagai dewi air, penguasa seluruh badan air seperti mata air, sungai, danau, hingga lautan.[1][2] Dalam sistem kepercayaan masyarakat Batak yang agraris, air dan tanah merupakan dua unsur utama yang menentukan keberlangsungan hidup. Oleh karena itu, kedua entitas ini dipersonifikasikan melalui Boru Saniang Naga sebagai dewi air dan Boraspati ni Tano sebagai dewa tanah.[1]

Peran dan kedudukan dalam kepercayaan batak kuno

Dalam kepercayaan tradisional Batak, Boru Saniang Naga menempati kedudukan penting sebagai penjaga air. Masyarakat Batak masa lalu yang menggantungkan hidup pada pertanian dan perikanan memberikan penghormatan khusus kepada penguasa air dan tanah. Ritual-ritual persembahan, doa, dan upacara adat dilakukan menjelang masa tanam, masa panen, serta pembukaan pemukiman baru (huta) untuk memohon kesuburan tanah dan kelimpahan air.[1]

Kesadaran ekologis masyarakat Batak yang tercermin dalam penghormatan mereka terhadap air, tanah, hutan, dan danau menjadi bagian dari nilai kearifan lokal yang diwariskan sejak zaman leluhur.

Asal-usul dan mitologi

Mitologi Batak memiliki beberapa versi mengenai asal-usul Boru Saniang Naga:

1. Putri Bataraguru

Salah satu versi menyebutkan bahwa Boru Saniang Naga adalah putri dari dewa tertinggi, Bataraguru, sekaligus adik dari Boru Deak Parujar, dewi pencipta bumi. Dalam kisah ini, Boru Saniang Naga dikisahkan meminta izin turun dari Benua Atas ke Benua Tengah (bumi) untuk menetap di wilayah perairan. Sejak saat itu ia dipercaya sebagai penguasa air.[3]

2. Isteri Boraspati ni Tano

Versi lain menuturkan bahwa Boru Saniang Naga merupakan istri Boraspati ni Tano, dewa tanah, melalui perjodohan yang dilakukan oleh Mulajadi Nabolon. Dalam narasi ini, Boru Saniang Naga yang berwujud ular dan Boraspati ni Tano yang menyerupai bengkarung menjadi simbol kesatuan tanah dan air dua elemen dasar yang sangat penting bagi masyarakat agraris.[3]

Versi ini dianggap logis karena keberhasilan pertanian, terutama persawahan, ditentukan oleh kesuburan tanah dan ketersediaan air.

Kekuasaan atas air

Kedudukan Boru Saniang Naga sebagai dewi air ditegaskan dalam tonggo-tonggo (doa ritual) yang ditujukan kepadanya. Salah satu penggalannya berbunyi:

“Naga na marjullak goar ni mualmi, si raja mangarabuk goar ni sampuranmi, si raja mumbakumbak goar ni umbakmi, si raja mompasompas goar ni pasirmi, si boru menakenak di bagasan aekmi.”

Secara makna, doa ini menggambarkan kekuasaan Boru Saniang Naga atas mata air, air terjun, ombak, hingga pantai. Ia diyakini berdiam di kedalaman seluruh badan air dan menjadi penentu ketenangan, keberlimpahan, ataupun kegoncangannya.[1][2]

Ritual dan persembahan

Mata air bersama dalam komunitas Batak, yang disebut homban, dipercayai berada di bawah kuasa Boru Saniang Naga. Untuk menjaga kelimpahan air, masyarakat memberikan persembahan melalui upacara patiur homban atau “bersih telaga”, yang biasanya dilakukan pada awal musim tanam.

Dalam upacara ini, seorang datu (dukun) akan membacakan tonggo-tonggo Boru Saniang Naga sebagai doa permohonan agar air tetap melimpah untuk mengairi sawah serta memenuhi kebutuhan hidup masyarakat.

Ritual serupa juga dilakukan oleh para nelayan Danau Toba (partoba) sebelum memulai musim penangkapan ikan. Tujuannya agar air danau tetap tenang, tidak berombak, dan melindungi keselamatan nelayan. [4]

Simbol konservasi dalam persembahan

Persembahan kepada Boru Saniang Naga kerap mencakup benda-benda seperti kapak, gurdi, dan pisau yang secara simbolis menegaskan komitmen untuk tidak merusak vegetasi di sekitar sumber air. Hal ini mencerminkan pemahaman ekologis masyarakat Batak bahwa kerusakan hutan akan mengakibatkan mata air kering dan berdampak pada kegagalan panen.[1]

Monisme batak dan etika lingkungan

Dalam pandangan kosmologis Batak, manusia dan alam merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Konsep ini dikenal sebagai monisme Batak, yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa atasnya. Pandangan ini bertolak belakang dengan dualisme yang diperkenalkan melalui ajaran Kristen dan kolonialisme, yang memisahkan manusia dari alam dan menempatkannya sebagai penguasa bumi (dominium terrae).

Kepercayaan kepada Boru Saniang Naga dan Boraspati ni Tano menekankan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam. Menghormati tanah dan air bukan hanya bagian dari ritual, tetapi juga bentuk kesepakatan sosial untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.[1]

Relevansi modern dan krisis ekologi

Masyarakat Batak masa kini sering menafsirkan bencana ekologis sebagai manifestasi kemarahan Boru Saniang Naga. Penggundulan hutan, penurunan debit sungai, serta surutnya permukaan Danau Toba sering dikaitkan dengan terganggunya keseimbangan alam akibat ulah manusia.

Hilangnya vegetasi membuat angin bergerak lebih kencang ke arah Danau Toba, menyebabkan ombak besar dan potensi badai yang dapat membahayakan kapal-kapal di sana. Meskipun demikian, kesadaran kolektif untuk melakukan “pertobatan sosial” terhadap kerusakan lingkungan masih dinilai kurang terlihat, sementara aktivitas yang merusak alam tetap berlangsung.[4]

Representasi modern

Patung Boraspati ni Tano dan Boru Saniang Naga yang dipasang di kawasan Waterfront Pangururan City, Pulau Samosir, berfungsi sebagai simbol pengingat bahwa kelestarian alam adalah syarat mendasar bagi keberlangsungan hidup manusia. Monumen ini juga menjadi elemen edukatif bagi masyarakat untuk terus menjaga tanah, air, dan hutan sebagai bagian dari identitas budaya Batak.[4]

Referensi

  1. ^ a b c d e f "Patung Boraspato Ni Tano - Boru Saniang Naga » Budaya Indonesia". budaya-indonesia.org. Diakses tanggal 2025-12-10.
  2. ^ a b "Boraspati ni Tano". Wikipedia (dalam bahasa Inggris). 2025-08-04.
  3. ^ a b "Ebatak: Boraspati ni Tano dan Boru Saniang Naga". www.ebatak.com. Diakses tanggal 2025-12-10.
  4. ^ a b c Bisnis, Harian Medan. "Begini Sakralnya Danau Toba Bagi Kelompok Parbaringin". Jones Gultom - MedanBisnisDaily.com (dalam bahasa Indonesia). Diakses tanggal 2025-12-10. Pemeliharaan CS1: Bahasa yang tidak diketahui (link)


Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement