Bhatura

Bhatura (pl.bhature;[1] juga dieja bhatooru[2]) adalah roti pipih yang digoreng hingga mengembang, terbuat dari adonan ragi alami (sourdough) dan umumnya disajikan untuk sarapan. Roti ini berasal dari masakan India Utara, tetapi juga dikonsumsi di wilayah lain. Mirip dengan naan, bhatura dibuat dari tepung maida dan difermentasi menggunakan yogurt, yang menghasilkan bakteri asam laktat sehingga adonan mengembang saat digoreng dan bertekstur lembut. Bhatura dapat ditemui sebagai makanan jalanan maupun sebagai hidangan perayaan. Ketika disajikan bersama kari kacang Arab, hidangan ini dikenal dengan nama chole bhature.

Sejarah

Bhatura, seperti halnya puri, merupakan bagian dari masakan Hindu pada masa Kekaisaran Mughal.[3] Di India Selatan, yang tradisionalnya mengonsumsi nasi, bhatura dan makanan berbahan gandum lainnya mulai menjadi lebih populer sejak tahun 1960-an.[4]

Bhatura erat kaitannya dengan masakan Punjabi.[5] Di India Utara dan Timur, roti ini umum disantap untuk sarapan atau makan siang,[6] dan menjadi makanan pokok di negara bagian utara seperti Himachal Pradesh dan Uttarakhand.[2] Seperti hidangan Punjabi lainnya, bhatura juga dijumpai dalam masakan Sikh di Amerika, meskipun lebih jarang dibandingkan roti pipih lain seperti phulka dan paratha.[7]

Bhatura paling sering dikonsumsi sebagai sarapan[5] dan juga dijual sebagai makanan jalanan di India.[8] Pada hari-hari libur, bhatura sering dimakan sebagai pengganti biji-bijian yang lebih umum seperti nasi atau roti.[1] Saat disajikan bersama kari kacang arab (chana masala), hidangan ini dikenal dengan nama populer chole bhature.[9]

Penyajian

Bhatura dibuat dari tepung maida[10] dan kadang-kadang ditambahkan semolina.[11] Adonan difermentasi menggunakan yogurt atau dadih, dan biasanya juga dicampur ragi[12] serta minyak atau ghee.[9] Adonan diuleni, diasamkan,[13] dan difermentasi semalaman[14] sehingga ragi dan bakteri asam laktat membuat adonan mengembang.[6] Starter fermentasi ini disebut malera.[2] Setelah itu, adonan digulung menjadi lingkaran dan digoreng hingga mengembang dan berwarna cokelat keemasan, menghasilkan roti yang lembut, empuk, dan elastis.[15]

Karena digoreng, bhatura memiliki kadar lemak yang tinggi,[8] termasuk lemak trans sekitar 9,5% per 100 gram, lebih dari dua kali lipat kentang goreng.[16] Meski difermentasi, roti ini tidak bersifat probiotik karena suhunya yang tinggi saat digoreng.[17] Dengan menyesuaikan starter fermentasi, bhatura bisa diperkaya dengan asam amino GABA.[18] Penelitian juga menunjukkan bahwa menambahkan tepung kedelai dapat meningkatkan kualitas roti ini.[19]

Bhatura mirip dengan puri, tetapi adonannya difermentasi.[20] Teksturnya mirip dengan kulcha atau naan, hanya saja dibedakan karena digoreng.[21] Roti ini bisa tebal dan empuk sehingga menyerap lebih banyak minyak, atau tipis seperti puri besar.[22] Ada juga versi isian, misalnya diisi dengan kacang beras.[23]

Referensi

  1. ^ a b Bakshi, Henna (17 October 2024). "When the Pressure Cooker Goes Off, the Diwali Meal Begins". Eater. Diakses tanggal 18 September 2025.
  2. ^ a b c Tamang & Lama 2023, hlm. 2.
  3. ^ Achaya 1998, hlm. 162: "Oddly, they [Mughal Muslims] did not take to the puri and bhathura, also forms of wheat breads deep-fried in oil; these were relished by Hindus ..."
  4. ^ Parimala & Sudha 2015, hlm. 76: "Over the last 50 years, the predominantly rice-eating population of South India has increased its per capita consumption of wheat substantially, mainly in the form of traditional foods like ... bhatura"
  5. ^ a b Reinfrank, Alkira (10 July 2018). "Naan, puri, paratha, pav: a beginner's guide to Indian breads, from soft and chewy to crispy and golden". South China Morning Post. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 24 April 2024. Diakses tanggal 18 September 2025.
  6. ^ a b Bhanwar et al. 2012, hlm. 77.
  7. ^ Sidhu, Veronica (2012). "Sikh American Food". The Oxford Encyclopedia of Food and Drink in America (Edisi 2nd). Oxford University Press. ISBN 9780199739226. Diakses tanggal 17 September 2025.
  8. ^ a b Hidayanti et al. 2025, hlm. 243.
  9. ^ a b Parimala & Sudha 2015, hlm. 78; Kumar 2016, hlm. 724.
  10. ^ Usman et al. 2025, hlm. 3.
  11. ^ Godbole, Nandita (2014). A Dozen Ways to Celebrate: Twelve Decadent Feasts for the Culinary Indulgent. Curry Cravings.
  12. ^ Geary, Andrea. "Bhaturev". Cook's Illustrated. Diakses tanggal 18 September 2025.
  13. ^ Bladholm 2000, hlm. 41.
  14. ^ Bender 2014, "Bhatura".
  15. ^ Kumar 2016, hlm. 724.
  16. ^ Butt & Sultan 2009, hlm. 1279.
  17. ^ Bansal et al. 2016, hlm. 1857.
  18. ^ Bhanwar et al. 2012, hlm. 77, 79; Hayta & Polat 2014, hlm. 219.
  19. ^ Parimala & Sudha 2015, hlm. 79.
  20. ^ Ramineni 2012, hlm. 76.
  21. ^ Sankaran 1998, hlm. 777.
  22. ^ Chauhan, Vasundhara (16 April 2011). "Fringe benefits". The Hindu. Diakses tanggal 21 September 2025.
  23. ^ Katoch 2020, hlm. 329.

Bibliografi

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement