Benteng Putri Hijau

Benteng Putri Hijau merupakan situs arkeologi bersejarah yang terletak di Desa Deli Tua, Kecamatan Namorambe, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara. Situs ini mencakup area seluas sekitar 1.500 × 400 meter, dan diperkirakan menjadi pusat Kerajaan Aru yang berdiri antara abad ke-13 hingga abad ke-16.[1]

Deskripsi fisik

Benteng Putri Hijau dibangun dengan memanfaatkan struktur topografi alami yang berdekatan dengan sungai dan kontur tanah. Konstruksi utama benteng terdiri dari dinding tanah dengan lebar sekitar 4-5 meter, ketinggian bagian dalam mencapai 2 meter, sedangkan ketinggian bagian luar mencapai 5 meter. Di sebelah tenggara benteng masih terdapat sisa-sisa parit yang menjadi bagian dari sistem pertahanan.[2]

Temuan arkeologis

Hasil penelitian arkeologis yang dilakukan sejak tahun 1996 menunjukkan bahwa situs ini telah digunakan sejak abad ke-8 hingga abad ke-17. Berbagai artefak telah ditemukan di lokasi ini, di antaranya:

  • Fragmen keramik dari Tiongkok
  • Tembikar
  • Uang logam dirham Aceh
  • Berbagai artefak lain yang menunjukkan aktivitas manusia pada masa lalu

Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2009 menghasilkan kesimpulan bahwa benteng ini dibangun antara abad ke-13 hingga abad ke-17, yang bertepatan dengan masa kejayaan Kerajaan Aru. Hal ini diperkuat oleh analisis tekstual yang dilakukan oleh Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-Ilmu Sosial Lembaga Penelitian Universitas Negeri Medan (Pussis-Unimed) yang menyebutkan bahwa Kerajaan Aru berpusat di Deli Tua.[3] Keberadaan Benteng Putri Hijau menjadi bukti fisik penting tentang eksistensi Kerajaan Aru yang sebelumnya lebih banyak dikenal melalui catatan sejarah. Temuan ini memberikan kontribusi signifikan dalam memahami peradaban dan tatanan politik di Sumatera Utara pada masa lalu, khususnya mengenai sistem pertahanan, teknologi konstruksi, dan pola pemukiman masyarakat pada masa itu.[4]

Nilai historis dan kultural

Benteng Putri Hijau memiliki nilai sejarah yang signifikan karena merepresentasikan pusat kekuasaan Kerajaan Aru, salah satu kerajaan yang berperan penting dalam dinamika politik dan perdagangan di pesisir timur Sumatera pada masanya. Kerajaan ini terlibat dalam konflik dengan Kesultanan Aceh pada abad ke-16 yang mengakibatkan kejatuhan kekuasaan Aru.

Di area situs ini terdapat dua mata air yang dipercaya memiliki nilai sakral oleh masyarakat sekitar, yaitu Pemandian Putri Hijau dan Pemandian Panglima atau Pancur Gading. Kedua mata air ini sering dikunjungi warga untuk ritual atau pengobatan tradisional.

Legenda dan mitos

Nama "Putri Hijau" berasal dari legenda tentang seorang putri cantik dari Kerajaan Aru yang konon memiliki kulit berwarna hijau. Kecantikannya yang luar biasa menarik perhatian banyak penguasa, termasuk Sultan Aceh. Menurut kisah yang berkembang, ketika benteng jatuh ke tangan Aceh, Putri Hijau ditangkap dan dibawa ke Aceh, tetapi kemudian menghilang secara misterius dalam perjalanan.

Legenda lain menyebutkan adanya meriam sakti yang dapat menembakkan peluru emas untuk melindungi benteng. Saat benteng diserang, meriam ini konon meledak sendiri dan menghilang secara misterius.

Status pelestarian

Pada tahun 2019, Benteng Putri Hijau ditetapkan sebagai cagar budaya tingkat provinsi oleh Gubernur Sumatera Utara, Edy Rahmayadi. Namun, situs ini telah mengalami beberapa kali perusakan:

  1. Sebagian area benteng pernah dirusak oleh Perum Perumnas ketika mengembangkan perumahan
  2. Pada November 2022, sebagian dinding benteng dirusak oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Utara saat menjalankan proyek pembangunan jalan menuju Pemandian Putri Hijau[5]

Sesuai rekomendasi Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh, bentuk benteng telah dikembalikan seperti semula setelah insiden perusakan terakhir. Meskipun demikian, zona inti benteng tetap tergolong rawan terhadap perusakan.[5]

Referensi

  1. ^ Media, Kompas Cyber (2023-09-03). "Benteng Putri Hijau, Peninggalan Kerajaan Aru yang Pernah Dirusak". KOMPAS.com. Diakses tanggal 2025-05-10.
  2. ^ SINAGA, NIKSON (2022-12-20). "Bentuk Cagar Budaya Benteng Putri Hijau yang Dirusak Dikembalikan Lagi". kompas.id. Diakses tanggal 2025-05-10.
  3. ^ "Sejarah Benteng Putri Hijau, Asal-usul, dan Kisah Menariknya". kumparan. Diakses tanggal 2025-05-10.
  4. ^ Aldi, Nizar. "Penataan Situs Benteng Putri Hijau Berujung 4 Orang Jadi Tersangka". detiksumut. Diakses tanggal 2025-05-10.
  5. ^ a b Aldi, Nizar. "Surya Minta Klarifikasi soal Situs Benteng Putri Hijau, Hasan: Dipugar Jadi Wisata". detiksumut. Diakses tanggal 2025-05-10.

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement