Bener, Purworejo

Bener
Negara Indonesia
ProvinsiJawa Tengah
KabupatenPurworejo
Pemerintahan
 • CamatVivin Suryandari Feriyani, S.STP., MM.
Populasi
 • Total53,681 (tahun 2.000)[1] jiwa
Kode Kemendagri33.06.16 Suntingan nilai di Wikidata
Kode BPS3306160 Suntingan nilai di Wikidata
Luas90 km²
Kepadatan599 jiwa/km²
Desa/kelurahan28
Peta
PetaKoordinat: 7°38′22″S 110°4′48″E / 7.63944°S 110.08000°E / -7.63944; 110.08000

Bener (bahasa Jawa: ꦧꦼꦤꦼꦂ) adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Kecamatan ini berjarak sekitar 11 Km dari ibu kota Kabupaten Purworejo. Pusat pemerintahannya berada di Desa Kali Urip. Kecamatan Bener merupakan salah satu kecamatan paling utara yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang.

Batas wilayah

Batas-batas wilayahnya adalah sebagai berikut:

Utara Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang
Timur Kabupaten Magelang dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Selatan Kecamatan Loano dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
Barat Kecamatan Gebang, Kecamatan Loano dan Kabupaten Wonosobo

Desa/kelurahan

Pada suatu ketika, Sultan Hadiwijaya memerintahkan kepada seluruh Adipati di wilayah kekuasaannya untuk menyerahkan seorang puteri untuk dijadikan pelara-lara (sebagai selir atau penari kerajaan).

Sebagai tanda kesetiaan, Adipati Warga Utama I dengan tulus hati mempersembahkan puterinya sendiri, Raden Rara Sukartiyah, yang sebelumnya pernah menjadi isteri Bagus Sukra, anak Ki Demang Toyareka, tetapi masih suci hingga saat itu.

Pada hari Sabtu Pahing, mereka berangkat ke Kerajaan Pajang. Setelah menyerahkan puterinya, Adipati Wirasaba kembali pulang ke Wirasaba. Kemudian, Anak Demang Toyareka menyusul ke Pajang, mengaku sebagai suaminya. Padahal permintaan Sultan Hadiwijaya adalah yang masih gadis.

Karena putri dari Adipati Warga Utama I sudah menikah, Sultan Hadiwijaya marah. Sang raja merasa direndahkan. Merasa dihina oleh adipati bawahan. Diberi persembahan perempuan yang bukan perawan.

Sultan Hadiwijaya memerintahkan tiga orang prajurit mengejar Adipati Warga Utama I yang sudah pulang, para prajurit diperintahkan langsung membunuhnya.

Setelah prajurit pergi, Sultan Hadiwijaya memanggil putri dari Adipati Warga Utama I. Ditanyakan tentang kedatangan laki-laki yang mengaku sebagai suaminya.

Sang putri pun menjelaskan, yang datang adalah bekas suaminya. Sudah bercerai empat bulan silam. Namun, selama menikah mereka belum pernah berhubungan, karena tidak ada cinta. Jadi, meskipun sudah menikah, dia masih gadis. Maka, oleh sang ayah dipersembahkan ke Pajang.

Sultan Hadiwijaya menyesali keputusannya yang terburu-buru mengutus prajurit untuk membunuh Adipati Warga Utama I. Ia merasa telah mengambil keputusan yang keliru.

Dipanggillah tiga orang prajurit lagi untuk mengejar prajurit pertama. Diperintahkan untuk membatalkan pembunuhan karena Adipati Warga Utama I tidaklah bersalah apa-apa.

Adipati Warga Utama I, dalam perjalanan pulang sampai di Desa Bener (sekarang masuk Wilayah Purworejo) dan singgah di rumah Ki Ageng Bener. Di sana, beliau disambut dengan baik dan dijamu suguhan pindang banyak (hidangan berupa angsa).

Selagi Adipati beserta para pengiringnya menikmati jamuan makan siang, tiba-tiba datanglah utusan Sultan Hadiwijaya yang mengemban tugas untuk membunuh Adipati.

Namun, mereka tidak langsung menjatuhkan hukuman karena yang bersangkutan sedang makan. Mereka mempersilahkan Adipati Warga Utama menyelesaikan makan lebih dulu.

Belum selesai makan, ternyata datang rombongan utusan kedua. Melihat utusan pertama sudah berdiri di depan adipati, mereka utusan kedua melambaikan tangannya kepada utusan pertama. Lambaian tangan tersebut sebagai tanda bahwa Sultan Hadiwijaya telah membatalkan keputusannya. Mereka merintahkan agar utusan pertama jangan membunuh Adipati Warga Utama I.

Begitu melihat lambaian tangan itu, utusan pertama justru langsung mencabut kerisnya, kemudian menghujamkan ke dada Adipati Warga Utama.

Utusan pertama mengira lambaian tangan dari utusan kedua sebagai tanda agar mereka untuk segera membunuh Adipati Warga Utama I. Semua yang ada di pendapa itu geger dan gugup. Adipati yang nahas itu terjatuh dengan darah segar mengalir dari dadanya. Para pengiring dan pengawal tidak bisa berbuat banyak. Jeritan dan isak tangis menggema di Balemalang itu. Mereka sadar bahwa utusan itu membawa amanat Kanjeng Sultan. Sementara Adipati Menahan sakit, para pengiring dan seisi rumah berusaha menyelamatkannya.

Sebelum ajalnya tiba, Adipati Wirasaba memberikan pesan-pesan penting kepada orang-orang di wilayah kadipaten Wirasaba, yang turun-temurun dipegang hingga sekarang. Pesan-pesan tersebut adalah:

1. Aja lelungan ing dina setu pahing (Jangan bepergian di hari Sabtu Pahing). 2. Aja ngingu djaran wulu dhawuk abrit (Jangan memelihara kuda berwarna abu-abu merah). 3. Aja mangan pindang banyak (Jangan makan daging angsa). 4. Aja manggon ing bale malang (Jangan berdiam di balai melintang).

Jenazah Adipati Warga Utama I dimakamkan di Pekiringan, Desa Klampok, Kecamatan Purwareja, Banjarnegara. Setelah kematian Adipati Warga Utama I, beliau digantikan oleh anak menantunya, yaitu Raden Jaka Kaiman yang bergelar Adipati Warga Utama II atau Adipati Mrapat. Jaka Kaiman adalah keturunan Majapahit dan Pajajaran. Karena kemurahan hatinya, Adipati Warga Utama II membagi wilayahnya menjadi empat bagian dan dibagi dengan seluruh saudara iparnya, anak-anak Adipati Warga Utama I.

1. Wilayah Banjar Petambakan (Banjarnegara) diberikan kepada Kyai Ngabehi Wirayuda. 2. Wilayah Merden (Cilacap) diberikan kepada Kyai Ngabehi Wirakusuma. 3. Wilayah Wirasaba (Purbalingga) diberikan kepada Ngabehi Wargawijaya. 4. Wilayah Kejawar (Banyumas) dikuasai sendiri oleh Jaka Kaiman yang membuka hutan mangli, dan membangun pusat pemerintahan yang diberi nama Kabupaten Banyumas.

Jaka Kaiman atau Adipati Warga Utama II menjadi bupati pertama Kabupaten Banyumas pada tahun 1582-1583. Setelah meninggal, beliau dimakamkan di Desa Dawuhan, Kabupaten Banyumas. Di daerah tersebut kemudian dibangun kompleks makam bagi para bupati-bupati Banyumas.

Disarikan dari berbagai sumber oleh : Gus Emha Saiful Mujab, 1 Juni 2025

Referensi

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement