Barong Brutuk

Barong Burutuk

Barong Brutuk adalah tradisi Desa Terunyan, Kecamatan Kintamani yang menampilkan sepasang arca atau barong khas Bali. Umat Hindu Bali memercayai bahwa Barong Brutuk adalah simbol penguasa di Desa Trunyan, Ratu Sakti Pancering Jagat (laki- laki / di dalam prasati disebut Ratu Datonta) dan Ida Ratu Ayu Pingit Dalem Dasar (perempuan).[1] Barong brutuk menanamkan pengetahuan tentang leluhur kepada generasi penerus mereka.

Sejarah

Pertunjukan ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-9 dan masih memperlihatkan corak Hindu.[1] Masyarakat Desa Trunyan, yang dikenal sebagai komunitas Bali Aga, meyakini bahwa roh leluhur masih memiliki pengaruh terhadap kehidupan mereka dan dianggap sebagai pendiri desa.[2]

Istilah Brutuk ditafsirkan sebagai “serangan” terhadap seseorang, karena pada bagian akhir tarian Brutuk terdapat dramatiasi pertemuan Raja dan Ratu yang melambangkan mitologi pertemuan Dewa Tertinggi Trunyan dengan calon permaisurinya. Selain itu, masyarakat Trunyan juga menafsirkan kata Brutuk berasal dari gabungan kata baru dan tawuk, yang berarti bertemu atau bersatu (samyoga). Simbol pertemuan ini dipahami sebagai simbol pertemuan perempuan dengan laki–laki sebagai proses kehidupan manusia dalam Agama Hindu disebut Purusa dan Pradana.[2]

Komponen tari

Penari

Barong brutuk ini ditarikan oleh 21 orang pemuda yang sebelumnya harus melewati masa karantina terlebih dahulu selama 42 hari yang dilaksanakan di sekitar areal suci pura, selama 42 hari tersebut pemuda tersebut dilarang meninggalkan areal pura dan dilarang berhubungan dengan perempuan.[3] Jumlah penari ini menggambarkan hierarki dewa-dewa lokal dalam kepercayaan masyarakat Terunyan.[4]

Tata rambut

Pemeran Barong Brutuk menggunakan rambut yang terbuat dari duk (ijuk).[5]

Busana

Pemeran Barong brutuk menggunakan kostum bulu dari bahan daun pisang (kraras) kering. Daun pisang yang digunakan harus berasal dari jenis dan daerah tertentu, misalnya hanya pada jenis pisang temaga, pisang dangsaba, dan pisang ketip yang diambil dari Desa Pinggan, Desa Blandingan, dan Desa Bayung. Penggunaan kraras dalam hal ini menjadi lambang kesuburan.[2]

Properti

Penari menggunakan properti wajah berupa topeng (tapel) dari kayu. Topeng utama melambangkan Dewa Tertinggi Trunyan, yaitu Ratu Sakti Pancering Jagat, beserta permaisurinya Ratu Ayu Mas Pingit Dalem. Pada bagian kepala topeng utama dipasang hiasan bunga bambu yang dibuat dari batang bambu yang diserut hingga menyerupai tanduk. Topeng Ratu Sakti Pancering Jagat dicat merah dengan mata melotot, mulut menyerupai senyum, serta dilengkapi kumis dan rambut hitam tebal. Topeng Duwe Istri dicat berwarna putih dengan rambut panjang hitam, mata bulat, dan alis tebal. Selain itu terdapat topeng lain yang berperan sebagai kerabat maupun pengiring. Topeng dari para karakter lain ini biasanya dicat berwarna hitam, hijau, dan ungu.[2]

Selain topeng, pemeran Barong Brutuk turut membawa senjata cambuk dengan panjang bervariasi dari bilah bambu sulang (tiing sulang) yang diselubungi dengan lidi-lidi dari pohon enau dan dililit dengan kulit kayu pohon waru.[5] Pecut ini diayunkan untuk menghindari kerusakan kostum akibat penonton.[2]

Fungsi

Pertunjukan Barong Brutuk ditampilkan untuk menyampaikan informasi dan memberikan hiburan pada masyarakat Desa Adat Terunyan. Pertunjukan ini turut ditampilkan sebagai ritual puncak dalam Upacara Ngusaba Gede Kapat Lanang yang berlangsung dua tahun sekali.[5]

Referensi

  1. ^ a b Agung, Anak Agung Gde Putra (1981). Beberapa tari upacara dalam masyarakat Bali (PDF). Jakarta: Direktorat jenderal kebudayaan. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ a b c d e Komang Dyah Setuti; I Wayan Wastawa; I Nyoman Ananda (2022-04-30). "ANALISIS SEMIOTIKA KOMUNIKASI PADA BARONG BRUTUK DI DESA TRUNYAN KINTAMANI BANGLI". Anubhava: Jurnal Ilmu Komunikasi HIndu. 2 (1): 253–262. doi:10.25078/anubhava.v2i1.1054. ISSN 2776-4230.
  3. ^ "Salinan arsip". Diarsipkan dari asli tanggal 2020-10-22. Diakses tanggal 2019-05-13.
  4. ^ Jayendra, Putu Sabda (2018). "PRAKTIK RAJA YOGA DALAM RANGKAIAN PEMENTASANBARONG BRUTUK DI DESA TERUNYAN, KINTAMANI, BANGLI:STUDI TEOLOGI HINDU DALAM TERMINOLOGI KEARIFAN LOKAL" (PDF). JURNAL PANGKAJA. 21 (2): 111–122. doi:10.25078/jyk.v1i2.1576. ISSN 2621-0185.
  5. ^ a b c M.Pd.H, Dr Putu Sabda Jayendra, S. Pd H. (2019-07-16). Barong Brutuk, Penjaga Jiwa dari Tanah Bali Kuno. Nilacakra. ISBN 978-623-7352-01-3. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement