Balum beudé
Balum Beudé atau Balum Bili merupakan istilah dalam tradisi lisan masyarakat Aceh yang merujuk pada makhluk gaib yang diyakini menghuni sungai, muara, dan kawasan perairan pantai. Dalam sistem kepercayaan lokal, entitas ini dipandang sebagai makhluk gaib yang tidak kasatmata, tetapi pada kondisi tertentu dipercaya dapat menampakkan diri dan berinteraksi dengan manusia. Keberadaannya kerap dikaitkan dengan peristiwa tenggelam atau hilangnya seseorang di perairan tertentu. Istilah baluem beudé dalam bahasa Aceh juga digunakan untuk menyebut titik perairan yang berbahaya, seperti palung atau pusaran air di sungai dan muara.
Terminologi
Balum beudé (/ba.lum bɯ.de/) dalam bahasa Aceh merujuk pada tempat atau lokasi berbahaya di perairan sungai, muara, maupun pantai. Istilah ini digunakan untuk menyebut palung atau cekungan dalam di dasar perairan yang dapat menimbulkan pusaran air. Pusaran tersebut dianggap berbahaya karena berpotensi menyeret orang yang berenang atau melintas di atasnya, sehingga sering dikaitkan dengan peristiwa hilangnya korban jiwa.[1] Istilah ini kemudian berkembang dalam tradisi lisan masyarakat Aceh untuk nenggambarkan sosok makhluk gaib yang diyakini mendiami wilayah tersebut. Istilah lain yang digunakan di berbagai wilayah Aceh antara lain balum bili, balum blidi, dan Lembide.[2] Dalam Bahasa Indonesia, balum bili kerap diterjemahkan secara harfiah sebagai pasir mengambang.[3]
Tradisi lisan
Dalam cerita rakyat, Baluem Bili digambarkan tidak terlihat secara kasatmata, tetapi pada kondisi tertentu dapat menampakkan diri. Wujud yang paling sering disebut adalah hamparan atau gulungan tikar berwarna merah yang mengapung di permukaan air. Karena itu, dalam Bahasa Indonesia makhluk ini dikenal pula sebagai hantu gulung tikar. Selain menyerupai tikar atau alas terapung, makhluk ini dalam beberapa kisah disebut dapat menyerupai potongan kayu hanyut atau benda lain yang lazim dijumpai di sungai. Terdapat pula narasi yang menyebutkan kemampuannya berubah wujud menjadi labi-labi, yaitu sejenis bulus yang hidup di air tawar. Penyamaran tersebut diyakini sebagai cara untuk mendekati manusia tanpa menimbulkan kecurigaan. Dalam sejumlah cerita, Baluem Bili digambarkan menyeret korban ke dasar sungai melalui pusaran air. Korban yang ditemukan kembali dalam kisah-kisah tersebut terkadang disebut mengalami kondisi fisik tertentu, seperti perubahan warna kulit atau luka kecil pada bagian tubuh.[2][4]
Kepercayaan terhadap Baluem Beudé berkembang di berbagai wilayah Aceh, terutama di sekitar sungai besar dan kawasan yang relatif sepi dari aktivitas manusia. Beberapa sungai yang kerap disebut dalam cerita masyarakat antara lain Krueng Arakundo dan Krueng Tingkeum. Di lokasi-lokasi tersebut, keberadaan palung dalam dan arus bawah yang kuat sering diasosiasikan dengan tempat bersemayamnya makhluk ini.[4]
Salah satu kisah yang beredar di masyarakat berkaitan dengan hilangnya dua anak di Sungai Arakunda, Banda Aceh. Dalam cerita tersebut, korban ditemukan setelah terdengar suara tembakan senjata api. Dalam kepercayaan lokal, Baluem Bili dikatakan takut terhadap suara letusan atau tembakan, sehingga diyakini akan melepaskan korban yang dibawanya. Praktik melepaskan tembakan ke udara dalam pencarian korban tenggelam tercatat dalam sejumlah tradisi lisan.[3][5][6]
Representasi budaya
Balum Bili juga dianggap sebagai simbol peringatan spiritual oleh masyarakat setempat. Keberadaan makhluk ini diyakini menandai perairan yang telah tercemar atau terganggu, sehingga bagi sebagian komunitas, Balum Bili berperan ganda sebagai penjaga sekaligus pertanda bagi manusia untuk lebih memperhatikan kondisi lingkungan di sekitarnya. Seiring berjalannya waktu dan berkembangnya ilmu pengetahuan modern, kisah tentang Balum Bili tetap lestari, khususnya di kalangan penduduk yang tinggal di sepanjang sungai dan pedalaman Aceh. Legenda ini terus diwariskan sebagai cerita budaya yang mengandung pesan moral dan spiritual, sekaligus menekankan pentingnya kesadaran terhadap pelestarian habitat alami.[4][7][8]
Referensi
- ^ Balai Bahasa Provinsi Aceh. Balum beudé. Kamus Bahasa Aceh–Indonesia (KBDA Daring). Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Diakses dari KBDA Daring pada entri huruf “B”.
- ^ a b Liputan6.com (2018-11-09). "Kisah Hantu Gulung Tikar dan Cinta Tak Terbalas di Danau Lut Tawar Aceh". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-02-19. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ a b Horor, Tim Pustaka (2011-01-01). 666 Misteri Paling Heboh: Indonesia & Dunia. Cmedia. ISBN 978-602-8596-29-9.
- ^ a b c Liputan6.com (2025-07-17). "Apa Itu Hantu Balum Bili, Sosok Mistis Penunggu Sungai Aceh". liputan6.com. Diakses tanggal 2026-02-19. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Aceh 05, Tim Jurnal. "Hantu Balum Bili, Sosok Penunggu Sungai di Aceh Yang Takut Suara Senapan". Jurnal Aceh. Diakses tanggal 2026-02-19. Pemeliharaan CS1: Nama numerik: authors list (link)
- ^ Kompas. Balum Bili: Hantu Sungai yang Takut Suara Senapan. Kompas.com.
- ^ Raidi (2025-07-28). "Balum Bili: Mysterious Creature Dwell in the Rivers of Aceh". Indonesia Sentinel (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-02-19.
- ^ "Mitos Hantu Balum Bili, Sosok Asli Penunggu Sungai Aceh". kumparan. Diakses tanggal 2026-02-19.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


