Bale Kanem
| Bale Kanem | |
|---|---|
꧋ꦧꦭꦺꦏꦤꦺꦩ꧀ Balé kaném | |
Bale Kanem | |
![]() | |
| Informasi umum | |
| Gaya arsitektur | Rumah Jawa |
| Alamat | Seboro Pasar, Ngombol |
| Kota | Purworejo |
| Negara | |
| Mulai dibangun | Tidak diketahui |
| Direnovasi | 27 Agustus - 22 September 2018 |
| Desain dan konstruksi | |
| Arsitek | Tidak diketahui |
Bale Kanem | |
| Peringkat | - |
| Lokasi keberadaan | Kota Purworejo |
| Pemilik | - |
| Koordinat | 7°46′41″S 109°55′58″E / 7.778057°S 109.932772°E |
Bale Kanem Lokasi Bale Kanem di Purworejo | |
| Nama sebagaimana tercantum dalam Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya | |
Bale Kanêm adalah sebuah bangunan kayu yang terdiri dari enam tiang yang terbuat dari kayu jati dan atapnya terbuat dari anyaman daun ilalang kering.
Geografis
Bale kanem berlokasi di belakang Masjid Jami Nurul Huda dusun Seboro Karang. Tepatnya di depan pekarangan rumah warga.
Filosofi
Disebut Bale Kanem karena bangunannya yang mirip sebuah bale pendopo kuno dan kata "Kanem" berasal dari tiang/saka yang berjumlah enam. Tidak diketahui secara pasti siapa dan kapan bangunan Bale Kanem dibangun.
Keunikan
Salah satu keunikan pada Bale Kanem adalah konstruksi kayunya, karena sama sekali tidak menggunakan paku atau kawat. Pada bagian tiang/saka disambung dengan pasak kayu, kemudian bagian usuk dibuat dari belahan bambu dan hanya diikat menggunakan tali ijuk.
Cerita Populer
Menurut cerita yang populer di masyarakat, Bale Kanêm awalnya terletak di Desa Secang, Ngombol, Purworejo yang kemudian secara tiba-tiba bangunan tersebut berpindah ke Dusun Seboro Karang, Desa Seboro Pasar.[1] Peristiwa tersebut hanya terjadi satu malam, dan sebab itu Bale Kanêm juga disebut omah tiban (rumah tiban). Letaknya sekarang berada dibelakang Masjid Jami Nurul Huda, persis di halaman depan rumah warga.
Struktur dan Konstruksi
Dibangun dengan gaya arsitektural yang kaya akan makna, baik dari sisi historis, estetika, religi, simbolik, dan kemasyarakatan. Gaya bagunan Jawa tidak sekedar memandang objek fisik, tetapi juga sebagai sebuah simbol dari bagian ritual.

Tiang utama atau kolom dalam arsitektural rumah jawa (såkå guru) secara langsung menopang atap, bukan dinding. Memiliki enam tiang utama yang diletakan di atas umpak, yaitu batu berbentuk trapesium atau sejenisnya antara tiang dan pondasi dasar bangunan. Ada berbagai ukuran umpak mulai dari yang seukuran dengan luas penampang tiang hingga yang besar 40x40cm². Fungsi dari umpak ini untuk mencegah tiang kayu terkena langsung dengan air tanah serta mengurangi gaya horizontal dari getaran yang timbul akibat gempa bumi.

Setiap tiang atau saka memiliki pen untuk menyambungkan struktur dari seluruh bangunan. Pada bagian atas terdapat pen (purus pathok) untuk mengunci balok kayu yang terhubung ke blandar dan pengeret, lalu bagian tengah tiang saka memiliki pen pasak (purus lanangan & purus wédhokan)[2] untuk meletakan balok yang mengelilingi ke enam tiang tersebut. Fungsi dari balok yang mengelilingi tiang adalah menjadi bale atau permukaan datar yang terbuat dari bambu, yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan.
Bagian atap Bale Kanem menggunakan jenis pokok/jompongan yang sederhana[3]. Atapnya tersusun berlapis, paling dasar ada anyaman daun kelapa tua (blêkêtêpê) kemudian di atasnya ada anyaman ilalang kering (wêlitan) yang ditumpuk berlapis.
Fungsi
Menurut cerita yang mengalir di masyarakat, Bale Kanem dahulu memiliki fungsi sebagai tempat yang digunakan oleh Sunan Geseng untuk mengajar mengaji muridnya.
Hal Menarik
Setiap bulan Mulud atau Bakdamulud pada kalender Jawa, atap yang terbuat dari daun ilalang kering diganti dengan daun ilalang kering yang baru dalam kurun waktu 2-3 tahun tergantung kondisi kerusakan. Saat ini untuk menjaga bangunan asli dari Bale Kanem, maka dibangun rumah kecil supaya terhindar dari panas dan hujan.
Cerita Warga
Menurut warga setempat dahulu terdapat beberapa benda peninggalan berupa buku atau kitab, namun kabarnya buku atau kitab tersebut sudah tidak ada. Tidak diketahui secara pasti kemana benda-benda tersebut menghilang.[butuh rujukan]
Perawatan dan Renovasi
Saat ini Bale Kanem dirawat oleh masyarakat di sekitarnya, sehingga kondisi aslinya masih berdiri kokoh. Namun dikarenakan kondisi yang sudah termakan usia, akhirnya diputuskan untuk melakukan perbaikan.
Pada tahun 2018 Bale Kanem mengalami renovasi yang cukup besar, meliputi;
1. Balok kayu (blandar) 2. Tembok bagian luar 3. Pengecatan ulang tembok 4. Pintu
Proses yang paling lama untuk dikerjakan adalah membuat anyaman atap atau wêlitan, karena daun ilalang kering harus diwêlit (dianyam) pada bambu kecil dan diikat menggunakan tali yang namanya gêbêg. Biasanya atap dibuat oleh orang tua yang telah menguasai cara untuk menganyam ilalang.
note: renovasi dilakukan dengan tidak mengubah konstruksi bangunan asli
Pranala Menarik
Catatan Kaki
- ^ "Seboropasar, Ngombol, Purworejo". Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas. 2021-11-17.
- ^ "Konstruksi Sambungan Tiang Rangka Joglo Bagian Atas". hdesignideas. Diakses tanggal 2026-04-02.
- ^ "Mengenal Bangunan Berarsitektur Tradisional Jawa : Bangunan Kampung (Bagian 2)". DINAS KEBUDAYAAN (KUNDHA KABUDAYAN). Diakses tanggal 2026-04-02.
Daftar Pustaka
- Djoko Mulyono (2002). Mutiara Di Balik Tata Cara Pengantin Jawa. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. ISBN: 979-685-288-8.
- Imrotun; et al. (2025). The Past Trough Stone: A Comparative Analysis of Umpak Songo with Contemporary Architectural Structures in East Java. Jurnal Perkumpulan Prodi Pendidikan Sejalah Se-Indonesia (P3SI) Wilayah Jawa Timur.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.



