Babad Pakepung

Babad Pakepung merupakan karya sastra yang ditulis oleh Kyai Yasadipura II dan termasuk dalam kategori serat baru yang muncul pada masa Surakarta Baru. Penulisan naskah ini dilakukan pada masa pemerintahan Kangjeng Susuhunan Paku Buwana IV. Isi naskah Babad Pakepung mengisahkan peristiwa eksekusi terhadap sekelompok tokoh yang dianggap memiliki pandangan sektarian, yaitu Bahman, Wiradigda, Panengah, dan Nursaleh. Peristiwa tersebut menarik perhatian pemerintah kolonial Belanda serta pihak Keraton Yogyakarta karena dinilai berpotensi menimbulkan persoalan politik yang serius. Kedua pihak memandang kejadian itu sebagai peristiwa yang dapat berkembang menjadi perpecahan.[1]
Surakarta pernah mengalami masa genting ketika dikepung oleh pasukan dari berbagai kekuatan, yakni Keraton Ngayogyakarta, pemerintah kolonial Belanda, serta Kadipaten Mangkunegaran. Situasi tersebut menimbulkan kepanikan dan kebingungan di kalangan rakyat Surakarta. Ketegangan mereda setelah para sesepuh Surakarta memberikan nasihat agar empat tokoh sektarian yang dianggap sebagai biang kerusuhan segera ditangkap, sehingga barisan pengepung pun akhirnya terpecah.[2]
Peristiwa tersebut tercatat dalam Babad Pakepung, sebuah naskah sejarah yang belum pernah dicetak dan ditulis dengan gaya sastra tembang Macapat. Naskah ini menggambarkan dinamika pemerintahan pada masa Susuhunan Paku Buwana IV, yang menghadapi berbagai tekanan politik dari berbagai arah. Pada masa itu, Susuhunan Paku Buwana IV sempat berada dalam posisi terjepit akibat pengepungan dari pihak Belanda, Mangkunegaran, Keraton Ngayogyakarta, serta wilayah di sisi timur Surakarta.[3]
Keadaan tersebut dimungkinkan oleh keinginan Raja Susuhunan Paku Buwana IV untuk melepaskan diri dari pengaruh Kompeni Belanda serta memperkuat posisinya sebagai penguasa utama di antara para pesaing dalam Dinasti Mataram. Namun, situasi ini hanya berlangsung singkat, yaitu sekitar tiga bulan pada tahun 1790 Masehi.[4]
Latar belakang
Peristiwa ini berlangsung di lingkungan Keraton Surakarta, ketika empat orang abdi dalem berupaya membujuk Susuhunan Paku Buwana IV untuk mengakhiri hubungan persahabatan dengan pihak Kompeni. Latar peristiwa selanjutnya berpindah ke Semarang, yang menjadi tempat berkumpulnya pasukan Kompeni dari berbagai daerah, antara lain Pati, Jepara, Surabaya, Gresik, Pasuruan, Sumenep, dan Madura. Setelah keempat abdi dalem tersebut ditangkap, mereka yakni Panengah, Wiradigda, Nursalèh, dan Bahman ditempatkan di Kapurbayan, kediaman Pangeran Purbaya. Pada akhir kisah, keempatnya diasingkan ke Pulau Drus yang terletak di Teluk Jakarta.[5]
Isi surat pengantar babad pakepung
Berikut petikan surat pengantar dalam Babad Pakepung:[6]
- Kang sinawung sekar gula milir, duk jumeneng dalem jeng susunan, nenggih Paku Buwane, je kang Abdurrahman iku, Sayidina panata gami, Senapati Ngalaga, ingkang kaping catur, kang Ngadhaton Surakarta, dèrèng lama dénya jumeneng narpati, wantu nata taruna.
- Ingadhepan abdi kang tan yukti, nama Panengah lan Wiradigda, Bahman kelawan Nursalèh, samya ngadoni atur, pinrih benggang lawan Kumpeni, aturnya mring sang nata, wong papat punika, kathah sasanggupira, atemahan kawedhar tyasnya sang aji, kényut mring setan papat.
- Sahaturé dhinahar mring aji, nata supé mring pamongira rina wengi ésuk soré, mung sétan papat iku, kang ginagas-(ka) gagasing galih, abdi pamongira, awit kala timur Ngabèi Yasadipura, was sinunglur, tan kanggep saaturnèki, dadya nahèn sungkawa.
Petikan surat pengantar tersebut jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:
- Tebu itu mengalir, sedangkan yang berdiri di dalam istana adalah Paku Buwana, yaitu Abdurrahman, Sayidina Panata Gami, Senapati Ngalaga, yang keempat, yang merupakan Keraton Surakarta, tidak lama setelah menjadi Narpati, ingin memerintah para pemuda.
- Di hadapan para abdi dalem yang tidak patuh, yaitu Panengah dan Wiradigda, Bahman dan Nursaleh, mereka semua menyusun rencana, mereka takut kepada Kompeni, mereka menceritakan kepada raja, keempat orang ini, banyak sekali jumlahnya, agar kekuatan bangsawan itu terungkap, ia pun murka kepada keempat setan itu.
- Setelah makan bersama bangsawan itu, raja makan bersama raja siang dan malam, hanya keempat setan itu saja yang murka, yaitu abdi dalem raja, karena ketika di sebelah timur Ngabei Yasadipura, tenggelam, mereka tidak dapat tertolong lagi, mereka hanya meratap.
Referensi
- ^ "Yasadipura II". www.domestik.web.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ "Kanjeng Susuhunan Pakubuwono IV / Raden Mas Subadya (Sunan Bagus) b. 2 септембар 1768 d. 2 октобар 1820 - Индекс потомака - Родовид". sr.rodovid.org. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Sukrismiyati, Sukrismiyati (2020-07-10). "Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823 – 1830". Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah (dalam bahasa American English). 12 (2): 132–152. ISSN 2086-2717.
- ^ Maulana, Yoyok Prima. "Peristiwa Pakepung: Saat Keraton Surakarta Dikeroyok Belanda, Yogyakarta, dan Mangkunegaran". intisari.grid.id. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Sukrismiyati, Sukrismiyati (2020-07-10). "Strategi Politik Pakubuwana VI Melawan Kolonial Belanda Tahun 1823 – 1830". Candi: Jurnal Pendidikan dan Penelitian Sejarah (dalam bahasa American English). 12 (2): 132–152. ISSN 2086-2717.
- ^ "Babad pakepung". Universitas Indonesia Library (dalam bahasa American English). [date of publication not identified]. Diakses tanggal 2025-06-15.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


