Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi

Ath-Thufail bin Amr ad-Dausi (bahasa Arab : الطفيل بن عمرو الدوسي) merupakan sahabat Nabi Muhammad. Ia kepala suku bani Dausi dari Tihamah. Ia masuk Islam 4 tahun sebelum hijrah ke Madinah.[1]

Kehidupan

Thufail bin Amr seorang penyair dan cerdas. Orang-orang Quraisy berkata kepada Thufail bin Amr, "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang ini (Muhammad) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat kami semua porak-poranda. Ia telah memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Ucapannya laksana sihir yang mampu memutuskan hubungan seorang anak dengan ayahnya, saudara dengan saudaranya dan suami dengan istrinya. Kami sangat khawatir jika apa yang telah terjadi pada kami itu lambat laun akan menimpamu dan kaummu. Karena itu, janganlah engkau sedikitpun mengobrol dengannya jangan pula mendengar sesuatu pun darinya!"[2]

Thufail bin Amr bercerita,"Demi Allah, mereka tak pernah henti mengatakan itu padaku hingga aku bertekad untuk tidak akan mendengarkan sesuatu pun dari Muhammad dan tidak berbicara dengan ia sampai pada aksi menutup kedua telingaku dengan kapas karena khawatir perkataan Muhammad masuk ke kedua telingaku sementara aku tidak ingin mendengar apa pun darinya. Suatu hari, aku pergi ke masjid, tanpa kuduga ternyata Muhammad berdiri shalat di sisi Ka'bah, kemudian aku berdiri mendekati ia. Ternyata Allah berkehendak agar aku mendengarkan sebagian firman-Nya. Sungguh apa yang aku dengar adalah ucapan yang teramat indah, aku bergumam dalam diriku,'Demi Allah, sungguh aku seorang yang cerdas dan penyair yang cerdas memilah antara yang haq dengan yang batil lalu apa salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan lelaki ini. Jika yang dia bawa adalah kebenaran, aku akan menerimanya. Jika yang dibawanya adalah kebatilan, aku akan meninggalkannya.'

Thufail diam-diam mengikuti Muhammad ke rumahnya meminta penjelasan tentang Islam hingga akhirnya Muhammad menjelaskannya hingga Thufail masuk Islam. Thufail berkata,"Wahai Nabi Allah, sesungguhnya aku orang yang ditaati di tengah-tengah kaumku. Aku akan pulang dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam menyeru mereka." Muhammad berkata: "Ya Allah, berilah dia sebuah tanda."

Thufail pulang kepada kaumnyadi Tsaniyyah, celah antara dua gunung, yang ia bisa melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua matanya ada cahaya seperti lentera. Ia berkata: "Ya Allah, janganlah dia ada di wajahku. Aku khawatir kaumku mengira bahwa cahaya tersebut adalah tanda bahwa aku keluar dari agama mereka." Kemudian cahaya tersebut pindah ke ujung cambuknya dan orang-orang bisa melihat sinar di cambuknya bagaikan lentera, sementara ia turun ke tempat mereka dari Tsaniyyah hingga akhirnya tiba di tempat mereka keesokan harinya mengislamkan ayah dan istrinya, sementara kaumnya kurang merespon dengan baik.[2]

Saat Pertampuran Khaibar, Thufail datang membawa 70 orang dari kaumnya yang telah masuk Islam, lalu mereka semua mendapatkan hadiah dari rampasan perang Khaibar.[2] Ketika Penaklukan Mekah, ia dikirim Muhammad untuk membakar berhala Dzu al-Kafain milik Amr bin Humamah.

Kematian

Ia wafat pada 633 M pada Pertempuran Yamamah melawan Musailamah sementara anaknya Amr bin Thufail terluka parah namun berhasil pulih.[1]

Referensi

  1. ^ a b Al-Mishri, Mahmud (2010). Sahabat-sahabat Rasulullah Jilid 4. Jakarta : Pustaka Ibnu Katsir. ISBN 9789797194386
  2. ^ a b c Hisyam, Ibnu (205). Sirah Nabawiyah. Jakarta : Penerbit Qisthi Press. ISBN 978-979-1303-91-0

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement