Arsitektur Mamluk
Atas: Masjid-Madrasah Sultan Hasan di Kairo, Mesir (1356–1361); Tengah: Makam Sultan Qalawun di Kairo (1285); Bawah: Benteng Qaitbay di Aleksandria, Mesir (akhir abad ke-15) | |||||
| Tahun aktif | 1250–1517 (dikombinasikan dengan gaya lain setelah 1517) | ||||
|---|---|---|---|---|---|
Arsitektur Mamluk adalah gaya arsitektur yang berkembang di bawah Kesultanan Mamluk (1250–1517), yang memerintah Mesir, Levant, dan Hijaz dari ibu kotanya di Kairo. Meskipun sering mengalami gejolak politik internal, para sultan Mamluk dikenal sebagai pelindung bidang arsitektur dan memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan warisan arsitektur Kairo.[1] Periode Mamluk, khususnya pada abad ke-14, menandai puncak kekuasaan dan kemakmuran Kairo.[2] Gaya arsitektur Mamluk juga ditemukan di kota-kota seperti Damaskus, Yerusalem, Aleppo, Tripoli, dan Madinah.[3]
Bangunan-bangunan utama pada masa Mamluk umumnya berupa kompleks multifungsi yang dapat menggabungkan berbagai elemen seperti makam pendiri, madrasah, khanqah (pondok sufi), masjid, sabil, atau fungsi sosial lainnya yang lazim ditemukan dalam arsitektur Islam. Kompleks-kompleks ini dibangun dengan denah yang semakin rumit, mencerminkan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan keterbatasan ruang perkotaan sekaligus keinginan untuk menonjol secara visual di lingkungan kota. Gaya arsitektur mereka juga ditandai dengan hiasan yang semakin rumit, yang awalnya mengikuti tradisi sebelumnya seperti stuko dan mosaik kaca, tetapi kemudian lebih mengutamakan pahatan batu dan panel mosaik marmer. Di antara pencapaian paling menonjol dalam arsitektur Mamluk adalah menara-menara berhias megah dan kubah batu berukir dari periode Mamluk akhir.[4][5][1]
Meskipun kesultanan Mamluk ditaklukkan oleh Utsmaniyah pada tahun 1517, gaya arsitektur Mamluk tetap bertahan sebagai tradisi lokal di Kairo dan berpadu dengan unsur-unsur arsitektur Utsmaniyah.[6] Pada akhir abad ke-19, bangunan bergaya Neo-Mamluk atau Kebangkitan Mamluk mulai dibangun di Mesir sebagai bentuk arsitektur nasional.[7][8]
Sejarah
Mamluk merupakan korps militer yang direkrut dari budak dan awalnya bertugas di bawah Dinasti Ayyubiyah, sebelum akhirnya mengambil alih kekuasaan pada tahun 1250 dan memerintah Mesir, Levant, serta Hijaz hingga penaklukan oleh Utsmaniyah pada tahun 1517. Pemerintahan Mamluk secara tradisional dibagi menjadi dua periode: Mamluk Bahri (1250–1382) yang berasal dari etnis Kipchak di Rusia selatan—disebut demikian karena barak mereka terletak di tepi laut—dan Mamluk Burji (1382–1517) yang berasal dari etnis Sirkasia dan ditempatkan di Benteng Kairo. Namun, arsitektur Mamluk sering kali diklasifikasikan berdasarkan masa pemerintahan sultan-sultan besar daripada berdasarkan gaya tertentu.[4] Caroline Williams, dalam panduannya tentang monumen bersejarah Kairo, membagi sejarah arsitektur Mamluk di kota tersebut ke dalam tiga fase utama: Mamluk Awal (1250–1350), Mamluk Pertengahan (1350–1430), dan Mamluk Akhir (1430–1517).[9]
Periode Mamluk Bahri
Meskipun dikenal dengan karakter militer, orang Mamluk juga merupakan para pembangun yang produktif dan meninggalkan warisan arsitektur yang kaya di seluruh Kairo serta di kota-kota besar lain di kesultanan mereka.[10] Melanjutkan praktik yang dimulai oleh Dinasti Ayyubiyah, sebagian besar lahan yang sebelumnya ditempati oleh istana Fatimiyah di Kairo dijual dan digantikan oleh bangunan-bangunan baru, menjadikannya kawasan bergengsi untuk pembangunan kompleks keagamaan dan makam Mamluk.[11] Proyek-proyek konstruksi yang diprakarsai oleh para penguasa Mamluk turut memperluas wilayah kota sekaligus membawa infrastruktur baru ke pusat Kairo.[12]
Akhir periode Ayyubiyah dan awal periode Mamluk ditandai dengan munculnya kompleks makam multifungsi pertama di Kairo. Sultan Ayyubiyah terakhir, al-Salih Ayyub, mendirikan Madrasah al-Salihiyyah pada tahun 1242. Istrinya, Shajar ad-Durr, menambahkan makam suaminya ke kompleks tersebut setelah kematiannya pada tahun 1249, lalu membangun kompleks makam dan madrasahnya sendiri pada tahun 1250 di lokasi lain di selatan Benteng (Citadel).[13] Kedua kompleks ini merupakan yang pertama di Kairo yang menggabungkan makam pendiri dengan kompleks keagamaan dan amal, sebuah ciri khas yang kemudian mendominasi bangunan-bangunan kesultanan Mamluk berikutnya.[13][14]
Periode awal Mamluk kemudian menjadi masa percobaan arsitektur, di mana berbagai tren khas arsitektur Mamluk mulai berkembang.[15] Misalnya, pada akhir periode Bahri, gerbang masuk telah berevolusi menjadi portal tinggi dengan relung dan kanopi muqarnas (ukiran berbentuk “stalaktit”) yang menjadi ciri khas hingga akhir kesultanan Mamluk. Para arsitek juga bereksperimen dengan penempatan elemen-elemen bangunan seperti ruang makam berkubah atau menara untuk memperkuat dampak visual monumen dalam lanskap perkotaan.[15]
Kekalahan bangsa Mongol dan negara-negara Tentara Salib terakhir di Levant pada paruh kedua abad ke-13 membawa periode damai yang cukup panjang di dalam kesultanan Mamluk, yang pada gilirannya memunculkan kemakmuran ekonomi.[16] Salah satu pencapaian arsitektur terpenting dari masa ini adalah kompleks makam Sultan al-Mansur Qalawun (berkuasa antara 1279–1290), yang dibangun pada 1284–1285 di atas reruntuhan istana Fatimiyah di Bayn al-Qasrayn, jantung kota Kairo.[17] Kompleks besar ini mencakup makam monumental, madrasah, dan rumah sakit besar (maristan). Rumah sakit tersebut menjadi salah satu pusat medis paling penting di dunia Islam kala itu dan terus beroperasi hingga akhir periode Utsmaniyah.[17]
Pada masa pemerintahan al-Nasir Muhammad (1293–1341, dengan masa jeda pemerintahan), cucu Qalawun, Kairo mencapai puncak kejayaannya dalam hal populasi dan kekayaan.[18] Ia merupakan salah satu pelindung seni dan arsitektur paling produktif dalam sejarah Mamluk. Di bawah kekuasaannya, Kairo berkembang ke berbagai arah, dan distrik baru seperti al-Darb al-Ahmar serta wilayah di bawah dan barat benteng dipenuhi dengan istana dan yayasan keagamaan yang dibangun oleh para amir (komandan dan pejabat Mamluk). Al-Nasir Muhammad juga melakukan sejumlah proyek besar di dalam benteng, termasuk pembangunan masjid baru, istana, dan balairung megah berkubah yang dikenal sebagai Iwan Agung.[19]
Setelah kematian al-Nasir Muhammad (1341), Kairo dilanda Wabah Hitam pada tahun 1348, dan kesultanan mengalami ketidakstabilan politik berkepanjangan hingga awal abad ke-15.[20] Meskipun demikian, bangunan keagamaan Mamluk terbesar dan paling ambisius, yakni Madrasah-Masjid Sultan Hasan, dibangun pada masa ini. Para perajin direkrut dari berbagai wilayah di dalam kesultanan Mamluk untuk mengerjakan proyek yang sangat mahal ini, yang menjelaskan adanya pengaruh arsitektur Iran (Ilkhanid) dan Seljuk Anatolia pada beberapa elemen bangunannya. Kompleks ini sebagian tidak selesai dibangun setelah kematian pendirinya, al-Nasir Hasan, pada tahun 1361.[21][22] Setelah itu, kompleks-kompleks Mamluk penting lainnya dari akhir periode Bahri di Kairo mencakup Makam Sultaniyah dan Madrasah Umm al-Sultan Sha'ban.
- Arsitektur Mamluk Bahri
-

-
Kompleks Qalawun di Kairo (dibangun pada tahun 1284–85). Kompleks ini mencakup sebuah mausoleum, madrasah, dan maristan (rumah sakit).[23].[23] -
Halaman Masjid al-Nasir Muhammad (dibangun pada tahun 1318 dan dimodifikasi pada tahun 1335) di Benteng Kairo
-
Gerbang masuk Masjid Ahmad al-Mihmandar (1325), dibangun oleh salah satu amir Sultan al-Nasir Muhammad -
![Madrasah-Masjid Sultan Hasan (1356–1361), monumen arsitektur Mamluk terbesar[24][25]](//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/25/Sultan-Hassan-Moschee_2015-11-14zc.jpg/250px-Sultan-Hassan-Moschee_2015-11-14zc.jpg)
-
Madrasah Umm al-Sultan Sha'ban (1368–1369); dua kubahnya mirip dengan ruang mausoleum
Periode Mamluk Burji
Para sultan Mamluk Burji melanjutkan tradisi artistik yang telah ditetapkan oleh para pendahulu mereka dari dinasti Bahri.[26] Arsitektur pada masa awal periode Burji tetap mempertahankan gaya dari periode akhir Bahri. Meskipun wabah penyakit kembali terjadi berulang kali sepanjang abad ke-15, Kairo tetap menjadi metropolis besar, dan populasinya pulih sebagian berkat migrasi dari pedesaan. Upaya yang lebih terarah dilakukan oleh para penguasa dan pejabat kota untuk memperbaiki infrastruktur dan kebersihan kota.[27]
Beberapa sultan Mamluk pada masa ini, seperti Barsbay (berkuasa 1422–1438) dan Qaytbay (berkuasa 1468–1496), memiliki masa pemerintahan yang relatif panjang dan sukses.[28]: 183, 222–230 Pada awal periode Burji, Barquq (berkuasa 1382–1399, dengan jeda) membangun kompleks makam megahnya sendiri di Bayn al-Qasrayn, yang dalam banyak hal menyerupai Masjid-Madrasah Sultan Hasan, meskipun berukuran lebih kecil.[26][29] Setelahnya, kompleks makam Faraj ibn Barquq (putranya) menjadi salah satu monumen paling mengesankan dari periode ini. Pembangunan ini juga memicu perkembangan Pemakaman Utara Kairo sebagai nekropolis Mamluk.[30][31]
Pada akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, menara batu (minaret) semakin disempurnakan dan kubah batu (sebagai pengganti kubah kayu atau bata) menjadi lebih umum. Kubah-kubah tersebut mulai diukir dengan motif dekoratif sederhana. Unsur arsitektur baru yang disebut “sabil-kuttab” (gabungan antara tempat air minum umum di tingkat bawah dan sekolah dasar di tingkat atas) mulai muncul sebagai elemen umum dalam kompleks keagamaan.[32]
Pada akhir periode Mamluk, kompleks-kompleks baru umumnya berukuran lebih sederhana dan memiliki tata letak yang semakin rumit serta tidak beraturan karena para arsitek harus menyesuaikan diri dengan ruang terbatas di kota yang padat.[33] Setelah masa al-Nasir Muhammad, Qaytbay menjadi salah satu pelindung seni dan arsitektur paling produktif pada era Mamluk. Ia membangun dan memulihkan banyak monumen di Kairo, serta memprakarsai proyek di luar Mesir.[28]: 223 [34] Pada masa pemerintahannya, tempat-tempat suci di Makkah dan Madinah dipugar secara ekstensif, dan monumen baru dibangun di Yerusalem.[35][36]
Di Kairo, kompleks makam Qaytbay menjadi salah satu monumen paling terkenal dari arsitektur Mamluk.[37] Masa pemerintahannya juga menandai puncak kualitas artistik dalam seni dekoratif, seperti ukiran batu pada kubah.[38] Kegiatan pembangunan berlanjut di bawah sultan terakhir Mamluk, Al-Ashraf Qansuh al-Ghuri (berkuasa 1501–1517), yang memerintahkan pembangunan kompleksnya sendiri (1503–1505) dan melakukan reorganisasi besar serta rekonstruksi kawasan Khan al-Khalili.[39] Pada periode terakhir ini, muncul kembali eksperimen dalam bentuk menara, yang terkadang mengadopsi kembali model dari monumen-monumen sebelumnya.[38]
-
Ruang sholat Masjid-Madrasah Sultan Barquq (dibangun antara tahun 1384 dan 1386) di Kairo -
Masjid al-Utrush di Aleppo (1410), contoh arsitektur Mamluk tingkat daerah -
Bagian dalam makam di Masjid Khanqah Faraj ibn Barquq (dibangun antara tahun 1400 dan 1411) di Pemakaman Utara Kairo -
Masjid Sultan al-Muayyad (dibangun antara tahun 1415 dan 1420), dengan kubah makamnya yang terlihat -
Kompleks Sultan Qaytbay (1474) di Pemakaman Utara Kairo -
Kompleks Sultan al-Ghuri (1505), sebuah bangunan dua bagian dengan madrasah di satu sisi dan khanqah dan mausoleum di sisi lainnya
Periode Utsmaniyah
Pada tahun 1517, penaklukan Mesir oleh Kesultanan Utsmaniyah secara resmi mengakhiri kekuasaan Mamluk, meskipun orang Mamluk sendiri masih memainkan peran penting dalam politik lokal.[40] Dalam bidang arsitektur, beberapa bangunan baru kemudian dibangun dengan gaya arsitektur klasik Utsmaniyah, seperti Masjid Sulayman Pasha yang didirikan pada tahun 1528. Namun, banyak bangunan baru tetap dibangun dengan gaya Mamluk hingga abad ke-18, seperti Sabil-Kuttab Abdul Rahman Katkhuda,[41] meskipun mengadopsi sejumlah elemen dari arsitektur Utsmaniyah. Sebaliknya, bangunan-bangunan baru yang secara keseluruhan bergaya Utsmaniyah sering kali meminjam detail-detail dari arsitektur Mamluk, seperti pada Masjid Sinan Pasha.[42]
Beberapa jenis bangunan dari akhir periode Mamluk, seperti sabil-kuttab (gabungan antara sabil dan kuttab) serta karavanserai bertingkat (wikala atau khan), justru semakin banyak dibangun pada masa Utsmaniyah. Perubahan umum pada gaya arsitektur lokal pada periode ini mencakup pengenalan menara bergaya pensil khas Utsmaniyah serta perancangan masjid dengan kubah pusat besar, yang kemudian menjadi dominan menggantikan bentuk masjid hipostil tradisional dari periode Mamluk.[43][44][1]
-
Masjid Mahmud Pasha (1568) -
Detail di dalam Masjid Sinan Pasha (1571) -
Arsitektur Neo-Mamluk
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, gaya “Neo-Mamluk” digunakan di Mesir, meniru bentuk serta motif arsitektur Mamluk tetapi disesuaikan dengan arsitektur modern. Para pemimpin dan pemerintah mendukung gaya ini sebagian sebagai bentuk respons nasionalis terhadap gaya Utsmaniyah dan Eropa, serta sebagai upaya untuk mempromosikan gaya yang dianggap khas “Mesir” (meskipun para arsiteknya terkadang berasal dari Eropa).[7][8][45] Contoh penerapan gaya ini antara lain Museum Seni Islam di Kairo, Masjid Al-Rifa’i, Masjid Abu al-Abbas al-Mursi di Aleksandria, serta berbagai bangunan publik dan pribadi, termasuk yang berada di kawasan Heliopolis.[7][8][45][46]
Karakteristik
Arsitektur Mamluk ditandai oleh pembangunan gedung multifungsi dengan denah yang semakin kompleks akibat keterbatasan ruang di kawasan perkotaan serta keinginan untuk menjadikan monumen tampak menonjol dalam lingkungannya.[4][1][5] Mengembangkan arsitektur Fatimiyah yang menyesuaikan fasad masjid dengan tata jalan, para arsitek Mamluk merancang bangunan mereka untuk memperindah pemandangan jalan, dengan menempatkan elemen-elemen utama secara sengaja agar mudah terlihat oleh pejalan kaki.[47] Meskipun susunan monumen pada masa Mamluk bervariasi, kubah makam dan menara merupakan ciri tetap. Kedua unsur ini menjadi fitur utama dalam siluet masjid Mamluk dan berperan penting dalam memperindah langit kota. Di Kairo, kubah makam dan menara dihormati sebagai simbol peringatan dan ibadah.[48] Salah satu ciri khas desain Mamluk adalah penempatan yang disengaja antara kubah bundar, menara vertikal, dan dinding fasad tinggi bangunan—disusun dalam berbagai kombinasi untuk memaksimalkan dampak visual dalam konteks perkotaan tertentu.[49] Para dermawan juga sering menempatkan makam mereka di sebelah ruang salat dan menghadap ke jalan, agar orang yang lewat atau sedang berdoa dapat melihat makam tersebut melalui jendela.[50][51]
Bangunan-bangunan Mamluk dapat berupa satu mausoleum tunggal atau bangunan amal kecil (seperti tempat minum umum), sementara kompleks arsitektur yang lebih besar biasanya menggabungkan berbagai fungsi dalam satu atau beberapa bangunan. Fungsi tersebut dapat mencakup kegiatan sosial dan amal, seperti masjid, khanqah (pondok sufi), madrasah, bimaristan (rumah sakit), maktab atau kuttab (sekolah dasar), sabil (kios untuk menyediakan air minum gratis), atau hod (palungan air untuk hewan); serta fungsi komersial, seperti wikala atau khan (karavanserai untuk menampung para pedagang dan barang dagangan mereka) atau rabʿ (kompleks apartemen di Kairo untuk penyewa).[4][1]
Selama periode Mamluk, denah lantai berbentuk salib atau empat iwan diadopsi untuk madrasah dan menjadi lebih umum digunakan pada kompleks monumental baru dibandingkan dengan masjid hipostil tradisional, meskipun iwan berkubah pada masa awal kemudian digantikan oleh iwan beratap datar pada masa selanjutnya.[52][53] Pintu masuk monumental yang dihiasi ukiran menjadi ciri umum dibandingkan periode sebelumnya, sering kali diukir dengan muqarnas dan pola dekoratif lainnya.[15] Ruang depan di balik gerbang tersebut kadang ditutupi langit-langit berkubah batu yang rumit. Ruang depan Madrasah Uljay al-Yusufi (sekitar tahun 1373) menampilkan langit-langit kubah silang berhias pertama dalam arsitektur Mamluk, dan variasi dari elemen ini kembali digunakan pada monumen-monumen berikutnya.[54]
- Elemen dan tipe arsitektur
-
Contoh gerbang, fasad, kubah, dan menara yang dipadukan secara visual di sepanjang jalan utama di Kairo (Masjid Amir Qijmas al-Ishaqi, sekitar tahun 1481) -
Contoh sabil (di bawah) dan kuttab (di atas) yang terintegrasi ke dalam fasad jalan sebuah (Kompleks Sultan al-Ghuri, sekitar tahun 1505)
-
Contoh masjid Mamluk dalam bentuk hipostilium tradisional, Masjid al-Maridani (1340) -
Contoh tata letak salib empat iwan di Masjid-Madrasah Sultan Barquq (1386) -
Contoh gerbang masuk monumental di Masjid-Madrasah Sultan Barquq (1386)
-
Contoh paling awal dari kubah silang berhias, di ruang depan Madrasah Uljay al-Yusufi (1373)
Dekorasi
Dekorasi pada bangunan-bangunan monumental juga menjadi semakin rumit seiring berjalannya periode Mamluk. Pada masa Mamluk Bahri, ukiran plester (stuko) banyak digunakan di bagian dalam ruangan maupun di bagian luar kubah dan menara bata. Mosaik kaca, yang terdapat pada monumen-monumen awal Mamluk, mulai ditinggalkan pada akhir periode Bahri.[15][55] Teknik batu ablaq (susunan lapisan batu dengan warna selang-seling) juga lazim digunakan dan tercatat pada beberapa monumen awal Sultan Baybars, seperti Qasr Ablaq (Istana Ablaq) yang dibangunnya untuk dirinya sendiri di Damaskus (kini tidak lagi ada).[56] Beberapa dekorasi plester pada monumen awal tampak dipengaruhi oleh gaya plester dari wilayah lain dan mungkin dikerjakan oleh para perajin yang direkrut atau didatangkan dari daerah-daerah tersebut. Mihrab plester halus di Madrasah al-Nasir Muhammad, misalnya, menyerupai karya plester Iran pada masa Ilkhanid di pusat seni seperti Tabriz. Sementara itu, ukiran plester yang kaya pada menara bangunan yang sama tampak memadukan keterampilan pengrajin Andalusia atau Maghribi dengan motif lokal Fatimiyah.[57][58][59]
- Dekorasi stuko
-
Dekorasi Stuko di bekas serambi makam Sultan Qalawun (1285) -
Mihrab berukir stuko di Madrasah al-Nasir Muhammad (1304) -
Dekorasi stuko pada menara Madrasah al-Nasir Muhammad (1304) -
Hiasan plesteran di sekeliling kubah Madrasa Sunqur Sa'di (sekitar tahun 1321) -
Kaligrafi Arab Kufi yang diukir di plesteran, Masjid-Madrasah Sultan Hasan
Seiring waktu, terutama ketika konstruksi batu menggantikan bata, pahatan batu dan mosaik marmer berwarna menjadi metode dekorasi yang dominan.[15][55] Teknik mosaik ini digunakan pada dinding serta lantai bangunan. Pengaruh dari wilayah Suriah dan bahkan Venesia tampak jelas dalam perkembangan ini.[15] Motif yang digunakan mencakup pola geometris dan arabeska vegetatif, disertai pita dan panel kaligrafi dengan gaya Kufi berornamen, Kufi Persegi, dan Tsuluts.[60] Dalam bangunan keagamaan, mihrab (relung dinding cekung yang menandakan arah kiblat) sering menjadi pusat dekorasi interior. Bagian cekung mihrab sering dihiasi dengan motif “matahari terbit” yang memancar.[61] Lambang pendiri (blazon) kadang-kadang disertakan di berbagai bagian dekorasi, meskipun tidak selalu menjadi ciri umum setiap bangunan. Lambang Mamluk biasanya berbentuk bundar dan berisi tulisan kaligrafi yang menampilkan nama dan gelar sultan.[62]
- Dekorasi batu dan marmer
-
Batu dengan hiasan mosaik tatahan di Makam Sultan Qalawun (1285), termasuk motif Kufi Persegi -
Mihrab dengan motif "matahari terbit" di tengah dan mosaik kaca di spandrel di atas, di Madrasah Taybarsiyya (1304) di Masjid Al-Azhar -
Mihrab dan dinding berpanel marmer dan batu Masjid-Madrasah Sultan Hasan (1356–1361) -
Contoh perkerasan mosaik marmer di Madrasah Sultan Barquq (1386)
-
Dekorasi ukiran batu dan mosaik marmer di atas pintu masuk Masjid Qijmas al-Ishaqi (1481) -
Lambang Qaytbay diukir pada kubah mausoleumnya (c. 1474) -
Ukiran batu di menara Qaytbay (1495) di Masjid Al-Azhar -
Dado kaligrafi marmer bertatahkan pasta hitam di Madrasah-Masjid al-Ghuri (1505)
Kayu masih digunakan sepanjang era Mamluk, meskipun pada periode akhir bahan ini menjadi semakin sulit ditemukan. Langit-langit kayu dihiasi dengan lukisan dan hiasan berlapis emas yang menyerupai iluminasi naskah pada masa yang sama.[63] Mimbar, satu-satunya perabot utama dalam masjid, biasanya merupakan karya ukiran kayu yang rumit dengan hiasan tatahan bermotif geometris.[63]
Pintu-pintu bangunan keagamaan umumnya dilapisi perunggu yang dibentuk menjadi pola geometris. Contoh paling megah terdapat pada pintu Masjid-Madrasah Sultan Hasan; pintu gerbangnya kemudian dipindahkan ke masjid al-Mu'ayyad, sedangkan pintu mausoleum yang masih berada di tempat aslinya juga dihiasi pola floral dengan tatahan perak dan emas.[63]
- Dekorasi kayu dan logam
-
Langit-langit kayu yang dicat dan disepuh di Sabil-Kuttab Sultan Qaytbay (1479) -
Mimbar kayu yang dihadiahkan kepada Masjid al-Salih Talai oleh Baktimur al-Jugandar sekitar tahun 1300; salah satu mimbar Mamluk tertua yang masih ada[64] -
Detail mimbar kayu al-Ghamri (sekitar tahun 1451) (sekitar 1451) -
Pintu-pintu bertahtah perunggu dan perak di makam Sultan Hasan (pertengahan abad ke-14) -
Dekorasi berlapis perunggu pada pintu-pintu Madrasah-Masjid Sultan Barquq (1384)
Menara
Menara-menara Mamluk menjadi sangat rumit dan biasanya terdiri atas tiga tingkat yang dipisahkan oleh balkon, dengan setiap tingkat memiliki rancangan berbeda—ciri khas yang umumnya hanya ditemukan di Kairo. Pada masa awal Mamluk Bahri, menara lebih sering dibangun dari batu bata, tetapi beberapa, seperti menara kompleks Qalawun dan Masjid al-Nasir Muhammad, dibangun dari batu. Sejak tahun 1340-an, menara batu menjadi lebih umum dan akhirnya menjadi standar. Dalam konstruksi Mamluk, para pembangun menara—setidaknya dalam beberapa kasus—berbeda dari para tukang batu yang mengerjakan bagian lain bangunan, sebagaimana dibuktikan oleh tanda tangan para tukang pada beberapa monumen. Karena itu, pembuat menara kemungkinan merupakan spesialis yang memiliki kebebasan untuk bereksperimen dalam karya mereka.[65]
Pada periode Bahri, menara awalnya melanjutkan gaya Fatimiyah dan Ayyubiyah sebelumnya, dengan batang menara berbentuk persegi yang diakhiri dengan struktur lentera—disebut mabkhara (“pembakar dupa”)—dan ditutup dengan kubah beralur.[66][67] Gaya ini tampak pada menara besar kompleks Qalawun (1285), meskipun bagian puncaknya kini telah dibangun ulang.[68][69] Menara Mausoleum Salar dan Sanjar al-Jawli (1303) serta Madrasah Sunqur Sa‘di (sekitar 1315) memperlihatkan bentuk serupa, tetapi lebih ramping dan dengan tingkat kedua berbentuk segi delapan, menandai perubahan bentuk yang akan datang.[66][67] Menara Masjid al-Maridani (sekitar 1340) merupakan yang pertama dengan batang sepenuhnya segi delapan dan puncak sempit berbentuk lentera yang terdiri atas delapan kolom ramping, diakhiri dengan finial batu berbentuk bulat. Gaya ini kemudian menjadi bentuk standar menara, sementara tipe mabkhara menghilang pada paruh kedua abad ke-14.[70][67][65]
Pada periode Mamluk Burji, menara umumnya memiliki tingkat pertama berbentuk segi delapan, tingkat kedua berbentuk silindris, dan tingkat ketiga berupa struktur lentera dengan finial di puncaknya.[51][71] Hiasan ukiran batu pada menara menjadi sangat kaya dan bervariasi antara satu bangunan dan lainnya. Menara dengan batang sepenuhnya persegi atau persegi panjang kembali muncul pada akhir periode Mamluk, pada masa pemerintahan Sultan al-Ghuri (1501–1516). Pada masa ini pula, struktur lentera di puncak sering digandakan—seperti pada menara Masjid Qanibay Qara atau menara al-Ghuri di Masjid al-Azhar—bahkan ada yang dibuat empat tingkat, seperti menara asli madrasah al-Ghuri.[71][65] Bentuk puncak ganda sebenarnya telah muncul sebelumnya pada salah satu menara asli Masjid-Madrasah Sultan Hasan pada pertengahan abad ke-14, tetapi tidak digunakan lagi hingga masa akhir ini.[72] Sayangnya, menara asli Sultan Hasan runtuh pada abad ke-17 dan puncak menara empat lentera al-Ghuri runtuh pada abad ke-19; keduanya kemudian dibangun kembali dengan gaya yang sedikit lebih sederhana seperti yang tampak saat ini.[73])
- Menara Mamluk
-
Menara kompleks Sultan Qalawun, awalnya dibangun pada tahun 1285. Tingkat ketiga dibangun kembali dengan batu bata oleh putranya pada tahun 1303. Tutup kerucutnya berasal dari perbaikan Utsmaniyah berabad-abad kemudian.[68] -
Menara Makam Salar dan Sanjar (1303), dengan contoh puncak bergaya mabkhara -
Menara Masjid Amir el-Maridani (1340), contoh paling awal dari gaya yang diulang di menara-menara berikutnya
-
Menara kembar Bab Zuweila, dibangun antara tahun 1415 dan 1420 untuk Masjid al-Mu'ayyad Shaykh di dekatnya
-
Menara Madrasah-Masjid al-Ashraf Barsbay (1425)
-
Menara Madrasah-Masjid al-Ashraf Barsbay (1474) -
Menara Masjid Qanibay Qara (1503), dengan poros persegi panjang dan puncak lentera ganda
Kubah
Menurut cendekiawan Doris Behrens-Abouseif, perkembangan kubah Mamluk mengikuti pola evolusi yang serupa dengan menara, meskipun berlangsung lebih lambat.[74] Kubah Mamluk mengalami perubahan dari struktur kayu atau batu bata menjadi struktur batu. Pada bagian dalam, peralihan antara dasar kubah bundar dan dinding ruang persegi di bawahnya awalnya diselesaikan melalui susunan squinch bertingkat, kemudian digantikan dengan pendentif berukir muqarnas.[67][75] Kubah awal pada periode Bahri umumnya berbentuk setengah bola tetapi sedikit meruncing dan dapat dibagi ke dalam dua tipe utama: kubah dengan drum pendek yang lengkungannya dimulai langsung dari dasarnya dan biasanya polos (seperti pada Khanqah Baybars al-Jashankir), atau kubah tinggi dengan lengkungan yang dimulai mendekati bagian atas dan sering kali beralur (seperti pada Mausoleum Salar dan Sanjar).[75] Banyak kubah Mamluk yang terbuat dari kayu dan batu bata runtuh atau dibangun ulang pada abad-abad berikutnya karena kelalaian, ketidakstabilan struktur, atau gempa bumi. Beberapa contoh rekonstruksi mencakup kubah Mausoleum Sultan Hasan, Mausoleum Sultan Barquq, mausoleum di Madrasah al-Nasir Muhammad, kubah Masjid al-Nasir Muhammad di Benteng, serta kubah batu bata pada Mausoleum al-Ghuri yang akhirnya dihancurkan pada abad ke-19 dan tidak pernah dibangun kembali.[4][1]
Sejumlah kubah kayu atau batu bata pada periode Bahri memiliki struktur ganda (yakni kubah luar dibangun di atas kubah dalam) dengan profil menggembung yang menyerupai kubah-kubah Timuriyah. Contohnya meliputi kubah Mausoleum Sarghitmish (dibangun ulang pada abad ke-19), kubah kembar Mausoleum Sultaniyya, dan kubah asli Mausoleum Sultan Hasan (yang kemudian runtuh dan dibangun kembali dengan bentuk berbeda).[76] Kubah-kubah ini mungkin terinspirasi oleh kubah Iran dari masa Ilkhanid atau Jalayirid,[77][76] meskipun sulit menentukan urutan pengaruhnya karena minimnya peninggalan sejenis dari wilayah lain.[77][76] Doris Behrens-Abouseif berpendapat bahwa bentuk kubah menggembung tersebut mungkin merupakan inovasi lokal Kairo yang kemudian dipadukan dengan tradisi kubah ganda Iran.[76]
Kubah pada periode Burji kemudian menjadi lebih runcing dengan drum yang lebih tinggi. Kubah batu secara bertahap diberi hiasan permukaan yang lebih rumit, dimulai dengan motif sederhana seperti pola chevron dan akhirnya berkembang menjadi pola geometris atau arabesk yang kompleks pada masa akhir Mamluk.[75][69] Dua kubah batu besar pada Mausoleum kembar di Khanqah Faraj ibn Barquq (dibangun antara tahun 1400 dan 1411) merupakan tonggak penting dalam perkembangan kubah batu serta puncak rekayasa arsitektur Mamluk. Keduanya merupakan kubah batu besar pertama di Kairo dan tetap menjadi kubah batu terbesar dari periode Mamluk di kota tersebut,[78] dengan diameter 14,3 meter.[79][80] Puncak pencapaian arsitektur kubah batu berhias dicapai pada masa pemerintahan Qaytbay pada akhir abad ke-15, sebagaimana terlihat pada kompleks makamnya di Pemakaman Utara.[81][82]
- Mamluk domes
-
Kubah bergaris Mausoleum Salar dan Sanjar (1303) -
Kubah polos Khanqah Baybars al-Jashankir (1310) -
Kubah bulat di Mausoleum Sultaniyya (sekitar tahun 1350-an) -
Kubah Masjid Aytimish al-Bajasi (1383) -
Salah satu kubah mausoleum Khanqah Faraj ibn Barquq (sekitar tahun 1411) -
Kubah batu dengan pola chevron berukir (Masjid al-Mu'ayyad, 1420) -
Bagian dalam kubah al-Mu'ayyad, dengan contoh liontin berukir muqarnas -
Kubah batu dengan pola geometris berukir (Makam Sultan Barsbay, sekitar tahun 1432) -
Kubah batu dengan motif geometris dan bunga yang tumpang tindih di kompleks pemakaman Sultan Qaytbay (selesai dibangun pada tahun 1474) -
Kubah batu bermotif arabesque (Masjid Qanibay Qara, 1503)
Gerbang
Gerbang masuk Mamluk merupakan bagian menonjol dari fasad bangunan dan biasanya dihiasi secara kaya, serupa dengan tradisi arsitektur Islam lainnya. Namun, keseluruhan fasad bangunan Mamluk umumnya juga terdiri atas elemen lain seperti jendela, sabil dan maktab, serta dekorasi umum, sehingga mengurangi dominasi visual gerbang masuk dibandingkan dengan gaya arsitektur lain seperti di Suriah.[83] Gerbang pada periode Bahri memiliki variasi desain yang beragam. Beberapa di antaranya, seperti gerbang kompleks Qalawun (1285) dan Mausoleum Sanjar dan Salar (1303), dihiasi dengan panel marmer, tetapi tidak terlalu ditekankan secara arsitektural dalam proporsi maupun posisinya pada keseluruhan fasad bangunan.[83] Sebaliknya, gerbang paling megah dan mengesankan dari masa Bahri adalah milik Khanqah Baybars al-Jashankir (1310).[83]
Gerbang sering kali dibuat agak menjorok ke dalam fasad dan diakhiri dengan kanopi berukir batu yang rumit di bagian atasnya. Salah satu rancangan umum untuk kanopi pada pertengahan abad ke-14 adalah kubah setengah atau ruang di atas zona muqarnas.[83][84] Penggunaan kanopi muqarnas pada gerbang awalnya merupakan ciri khas Damaskus, di mana gaya ini lazim pada bangunan Ayyubiyah, tetapi kemudian menyebar ke Kairo pada abad ke-14.[85] Kanopi muqarnas datar yang tidak biasa digunakan pada beberapa bangunan sekitar tahun 1330-an, seperti Masjid Amir Ulmas (1330) dan Istana Bashtak (1339).[83] Gerbang masuk besar Madrasah-Masjid Sultan Hasan (1356–1361) memiliki rancangan yang sangat mengingatkan pada gerbang gaya Seljuk Anatolia, seperti Gök Medrese abad ke-13 di Sivas. Dekorasinya, yang sebagian tidak selesai, juga menampilkan motif asal Tiongkok yang sebelumnya sudah muncul dalam benda seni Mamluk.[86][24] Gerbang ini memiliki kanopi muqarnas yang megah. Gerbang lain dari periode yang sama atau sesudahnya, seperti gerbang Madrasah Sarghitmish (1356) dan Madrasah Umm Sultan Sha‘ban (1368), memiliki kanopi muqarnas berbentuk piramidal yang lebih sempit dan serupa dengan rancangan Seljuk Anatolia atau Ilkhanid. Namun, gerbang muqarnas pada Madrasah Umm Sultan Sha‘ban merupakan contoh besar terakhir dari jenis ini pada masa Mamluk.[87]
Pada abad ke-15, selama periode Burji, gerbang dengan hiasan muqarnas yang dominan menjadi semakin jarang. Gerbang utama Masjid al-Mu‘ayyad Shaykh (dibangun antara 1415 dan 1420) merupakan gerbang monumental terakhir yang dibangun pada masa Mamluk.[88] Setelah itu, gerbang dengan profil trilobed dan langit-langit berbentuk kubah silang — biasanya berupa kubah setengah di atas dua kubah seperempat yang menyerupai squinch — menjadi tema utama. Beberapa di antaranya juga menggabungkan muqarnas pada bagian squinch. Komposisi ini kemudian diadaptasi untuk pendentif bagian dalam kubah, menunjukkan adanya perkembangan sejajar antara arsitektur gerbang dan kubah.[89] Gerbang kubah silang paling mengesankan adalah Bab al-Ghuri, yang dibangun pada tahun 1511 di Khan al-Khalili.[55]
- Gerbang Mamluk
-
Pintu masuk kompleks Sultan Qalawun (1285), dengan hiasan ablaq
-
Gerbang Khanqah Baybars al-Jashankir (1310) -
Contoh gerbang yang diatapi semi-kubah dengan muqarnas di bawahnya, di Masjid al-Nasir Muhammad (1318 dan 1335) -
![Gerbang Istana Amir Qawsun: gerbang bagian dalam dengan semi-kubah dan muqarnas berasal dari tahun 1337, sedangkan kanopi muqarnas di atasnya berasal dari masa pemerintahan Qaytbay (1468–1496)[90][91]](//upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/4/40/Palace_of_Qawsun_portal.jpg/120px-Palace_of_Qawsun_portal.jpg)
-
Gerbang masuk dengan kanopi muqarnas datar di Masjid Amir Ulmas al-Hajib (1330) -
Gerbang besar Masjid-Madrasah Sultan Hasan (1356–1361)
-
Kanopi muqarnas piramidal, beserta ablaq, mosaik marmer, dan hiasan batu ukir, di gerbang Madrasah Umm al-Sultan Shaban (1368) -
Gerbang masuk Masjid Sultan al-Mu'ayyad Shaykh (1420)
-
Gerbang masuk berbentuk tiga lobus dengan kubah silang di kompleks pemakaman Barsbay (1432) -
Gerbang masuk berbentuk tiga lobus dengan kubah silang dan muqarnas di kompleks pemakaman Qaytbay (1474) -
Gerbang dengan kubah silang rumit yang dibangun oleh Sultan al-Ghuri di Khan el-Khalili (1511)
Kompleks apartemen

Bangunan bertingkat yang berfungsi sebagai apartemen sewaan, dikenal sebagai rab' (jamak ribā' atau urbu), menjadi umum pada masa Mamluk dan tetap menjadi ciri perumahan kota selama periode Utsmaniyah berikutnya.[92][93] Jenis perumahan ini tergolong unik bagi Kairo pada masa itu. Apartemen-apartemen tersebut sering kali dirancang sebagai dupleks atau tripel bertingkat. Kadang-kadang bangunan ini terhubung dengan karavanserai (wikala), di mana dua lantai bawah digunakan untuk keperluan komersial dan penyimpanan, sedangkan lantai atas disewakan kepada para penghuni. Bahkan dalam kasus gabungan wikala-rab', kompleks apartemen memiliki pintu masuk tersendiri yang terpisah dari kompleks komersial di bawahnya.[92] Contoh tertua yang masih sebagian terpelihara dari jenis bangunan ini adalah Wikala Amir Qawsun, yang dibangun sebelum tahun 1341, tetapi beberapa contoh lain dari abad-abad berikutnya masih bertahan, baik sebagai bagian dari karavanserai maupun sebagai bangunan mandiri.[92][93] Bangunan tempat tinggal di Kairo dibuat dalam bentuk pemukiman atau kompleks yang disebut harat, yang dalam banyak kasus memiliki gerbang yang dapat ditutup pada malam hari atau saat terjadi gangguan.[93]
Referensi
- ^ a b c d e f Williams 2018.
- ^ Raymond 1993.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 70, 85-87, 92-93.
- ^ a b c d e Behrens-Abouseif 2007.
- ^ a b Blair & Bloom 1995, hlm. 70.
- ^ Williams 2018, hlm. 17.
- ^ a b c Sanders, Paula (2008). Creating Medieval Cairo: Empire, Religion, and Architectural Preservation in Nineteenth-century Egypt. American University in Cairo Press. hlm. 39–41. ISBN 9789774160950.
- ^ a b c Avcıoğlu, Nebahat; Volait, Mercedes (2017). ""Jeux de miroir": Architecture of Istanbul and Cairo from Empire to Modernism". Dalam Necipoğlu, Gülru; Barry Flood, Finbarr (ed.). A Companion to Islamic Art and Architecture. Wiley Blackwell. hlm. 1140–1142. ISBN 9781119068570.
- ^ Williams 2018, hlm. 30-33.
- ^ M. Bloom, Jonathan; S. Blair, Sheila, ed. (2009). "Architecture; VI. c. 1250–c. 1500; C. Central Islamic lands". The Grove Encyclopedia of Islamic Art and Architecture. Oxford University Press. ISBN 9780195309911.
- ^ Raymond 2000, hlm. 122
- ^ Raymond 2000, hlm. 120–28
- ^ a b Ruggles, D.F. (2020). Tree of pearls: The extraordinary architectural patronage of the 13th-century Egyptian slave-queen Shajar al-Durr. Oxford University Press.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 114.
- ^ a b c d e f Williams 2018, hlm. 30-31.
- ^ Raymond 1993, hlm. 122.
- ^ a b Behrens-Abouseif 2007, hlm. 132-141.
- ^ Raymond 1993, hlm. 122-124, 140-142.
- ^ Raymond 1993, hlm. 124-140.
- ^ Raymond 1993, hlm. 143-153.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 201-213.
- ^ Williams 2018, hlm. 78-84.
- ^ Raymond 1993, hlm. 78.
- ^ a b Blair & Bloom 1995, hlm. 82.
- ^ Williams 2018, hlm. 78.
- ^ a b Williams 2018, hlm. 227.
- ^ Raymond 1993, hlm. 169-177.
- ^ a b Clot, André (1996). L'Égypte des Mamelouks: L'empire des esclaves, 1250–1517. Perrin.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 228-229.
- ^ Williams 2018, hlm. 281.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 232.
- ^ Williams 2018, hlm. 31-33.
- ^ Williams 2018, hlm. 33-34.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 69.
- ^ Bloom & Blair 2009, hlm. 152.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 92-93.
- ^ Williams 2018, hlm. 286-287.
- ^ a b Williams 2018, hlm. 34.
- ^ Denoix, Sylvie; Depaule, Jean-Charles; Tuchscherer, Michel, ed. (1999). Le Khan al-Khalili et ses environs: Un centre commercial et artisanal au Caire du XIIIe au XXe siècle. Cairo: Institut français d'archéologie orientale.
- ^ Raymond, André. 1993. Le Caire. Fayard.
- ^ Williams 2018, hlm. 230.
- ^ Behrens-Abouseif 1989, hlm. 161.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 251.
- ^ Rabbat, Nasser. "Ottoman Architecture in Cairo: The Age of the Governors". web.mit.edu. Diakses tanggal 4 December 2018.
- ^ a b "Neo-Mamluk Style Beyond Egypt". Rawi Magazine. Diakses tanggal 2021-06-10.
- ^ Williams 2018, hlm. 172-173.
- ^ Bloom & Blair 2009, Aleppo
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 71.
- ^ Williams 2018, hlm. 108.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 76-77.
- ^ a b Williams 2018, hlm. 31.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 73-77.
- ^ Williams 2018, hlm. 30.
- ^ Williams 2018, hlm. 109.
- ^ a b c Behrens-Abouseif 2007, hlm. 90.
- ^ Petersen, Andrew (1996). "Ablaq". Dictionary of Islamic architecture. Routledge. hlm. 2. ISBN 9781134613663.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 77.
- ^ Williams 2018, hlm. 225-226.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 153-155.
- ^ Williams 2018, hlm. 30-31, 38-39, and more.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 93-94.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 94.
- ^ a b c Behrens-Abouseif 2007, hlm. 95-97.
- ^ Williams 2018, hlm. 126.
- ^ a b c Behrens-Abouseif 2007, hlm. 77-80.
- ^ a b Williams 2018, hlm. 57.
- ^ a b c d Behrens-Abouseif 1989, hlm. 17.
- ^ a b Behrens-Abouseif 2007, hlm. 135.
- ^ a b Behrens-Abouseif 1989, hlm. 20-22.
- ^ Williams 2018, hlm. 114.
- ^ a b Behrens-Abouseif 1989, hlm. 26.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 206.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 206, 298.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 77.
- ^ a b c Behrens-Abouseif 2007, hlm. 80-84.
- ^ a b c d Behrens-Abouseif 2007, hlm. 83.
- ^ a b Blair & Bloom 1995, hlm. 83-84.
- ^ Williams 2018, hlm. 283.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 234.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 87.
- ^ Williams 2018, hlm. 34, 288.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 90.
- ^ a b c d e Behrens-Abouseif 2007, hlm. 86.
- ^ Behrens-Abouseif 1989, hlm. 16.
- ^ Burns 2007, hlm. 210.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 207-209.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 86, 198, 219.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 241.
- ^ Behrens-Abouseif 2007, hlm. 89.
- ^ Williams 2018, hlm. 90.
- ^ Blair & Bloom 1995, hlm. 94.
- ^ a b c Sayed, Hazem I. (1987). The Rab' in Cairo: A Window on Mamluk Architecture and Urbanism (PhD thesis) (dalam bahasa Inggris). MIT. hlm. 7–9, 58. hdl:1721.1/75720.
- ^ a b c Raymond 2000, hlm. 123, 157.
Bibliografi
- Behrens-Abouseif, Doris (1989). Islamic architecture in Cairo : an introduction. Leiden et al.: Brill. hlm. 161-162. ISBN 9004086773.
- Behrens-Abouseif, Doris (2007). Cairo of the Mamluks: A History of Architecture and its Culture. Cairo: The American University in Cairo Press. ISBN 9789774160776.
- Blair, Sheila; Bloom, Jonathan M. (1995). The Art and Architecture of Islam 1250–1800. Yale University Press. ISBN 978-0-300-06465-0.
- Bloom, Jonathan M.; Blair, Sheila (2009). The Grove Encyclopedia of Islamic Art & Architecture. Oxford University Press. ISBN 978-0-19-530991-1. Diakses tanggal 2013-03-15.
- Burgoyne, Michael Hamilton (1987). Mamluk Jerusalem: An Architectural Study. British School of Archaeology in Jerusalem by World of Islam Festival Trust. ISBN 9780905035338.
- Burns, Ross (2009) [First edition in 1992]. The Monuments of Syria: A Guide. I.B. Tauris. ISBN 9781845119478.
- Burns, Ross (2007). Damascus: A History (dalam bahasa Inggris). Routledge. ISBN 978-1-134-48850-6.
- Burns, Ross (2017). Aleppo: A history. Routledge. hlm. 179–198. ISBN 9780815367987.
- O'Kane, Bernard (2016). The Mosques of Egypt. American University of Cairo Press. ISBN 9789774167324.
- Raymond, André (1993). Le Caire (dalam bahasa Prancis). Fayard. ISBN 978-2-213-02983-2. English translation: Raymond, André (2000). Cairo. Diterjemahkan oleh Wood, Willard. Cambridge, Mass.: Harvard University Press. ISBN 978-0-674-00316-3.
- Williams, Caroline (2018). Islamic Monuments in Cairo: The Practical Guide (Edisi 7th). The American University in Cairo Press. ISBN 978-9774168550.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


