Armada Laut Lepas
| Armada Laut Lepas | |
|---|---|
| Hochseeflotte | |
Kapal tempur Armada Laut Lepas | |
| Aktif | 16 Februari 1907 – 10 Januari 1919 |
| Negara | |
| Cabang | |
| Tipe unit | Armada angkatan laut |
| Jumlah personel | ~100 kapal |
| Pertempuran | Pertempuran Jutland |
| Tokoh | |
| Tokoh berjasa | Henning von Holtzendorff Friedrich von Ingenohl Hugo von Pohl Reinhard Scheer Franz von Hipper Ludwig von Reuter |
Armada Laut Lepas (bahasa Jerman: Hochseeflotte) adalah armada perang Kaiserliche Marine dan melakukan aksi militer pada Perang Dunia I. Armada Laut Lepas dibentuk dari elemen Armada Rumah (Heimatflotte) pada Februari 1907. Arsitek armada ini adalah Laksamana Alfred von Tirpitz yang memberikan visi terhadap armada ini, berharap bahwa Hochseeflotte akan menyimbangi dan menyaingi kekuatan penuh Angkatan Laut Britania Raya. Kaiser Wilhelm II dari Jerman memberi visi bahwa Armada Laut Lepas adalah instrumen kekuatan Kekaisaran Jerman di dunia dimana ia akan merebut koloni jajahan luar Eropa dan membuat Jerman menjadi negara adikuasa. Dengan memusatkan armada tempur yang kuat di Laut Utara sementara Angkatan Laut Kerajaan Inggris diharuskan untuk menyebar pasukannya di sekitar Kekaisaran Inggris, Tirpitz percaya bahwa Jerman dapat mencapai keseimbangan kekuatan yang dapat secara serius merusak hegemoni angkatan laut Inggris. Inilah inti dari "Teori Risiko" Tirpitz, yang menyatakan bahwa Inggris tidak akan menantang Jerman jika armada Jerman menimbulkan ancaman yang signifikan bagi armada Inggris sendiri.
Komponen utama Armada adalah kapal perangnya, yang biasanya diorganisir dalam skuadron delapan kapal, meskipun juga berisi berbagai formasi lain, termasuk Grup Pengintai I. Pada saat pembentukannya pada tahun 1907, Armada Laut Lepas terdiri dari dua skuadron kapal perang, dan pada tahun 1914, skuadron ketiga telah ditambahkan. Revolusi kapal perang kelas dreadnought pada tahun 1906 sangat memengaruhi komposisi armada; dua puluh empat kapal pra-dreadnought dalam armada menjadi usang dan perlu diganti. Kapal perang kelas dreadnought yang cukup untuk dua skuadron penuh selesai dibangun pada saat pecahnya perang pada pertengahan tahun 1914; Delapan kapal pra-dreadnought paling modern digunakan untuk membentuk skuadron ketiga. Dua skuadron tambahan yang terdiri dari kapal-kapal yang lebih tua dimobilisasi tetapi kemudian dibubarkan.
Armada tersebut melakukan serangkaian serangan ke Laut Utara selama perang, yang dirancang untuk memancing sebagian kecil dari Armada Besar Inggris yang jumlahnya lebih unggul. Operasi ini sering menggunakan kapal penjelajah tempur cepat dari Grup Pengintai I untuk menyerang pantai Inggris sebagai umpan bagi Angkatan Laut Kerajaan. Operasi ini mencapai puncaknya dalam Pertempuran Jutlandia, pada 31 Mei – 1 Juni 1916, di mana Armada Laut Lepas menghadapi seluruh Armada Besar. Pertempuran itu tidak menghasilkan kemenangan yang jelas, tetapi merupakan kemenangan strategis bagi Inggris karena meyakinkan Laksamana Reinhard Scheer, komandan armada Jerman, bahwa bahkan hasil yang sangat menguntungkan dari aksi armada pun tidak akan menjamin kemenangan Jerman dalam perang. Scheer dan laksamana senior lainnya menyarankan Kaiser untuk memerintahkan dimulainya kembali kampanye perang kapal selam tanpa batasan. Tanggung jawab utama Armada Laut Lepas pada tahun 1917 dan 1918 adalah untuk mengamankan pangkalan angkatan laut Jerman di Laut Utara untuk operasi kapal selam. Armada tersebut terus melakukan serangan ke Laut Utara dan unit-unit terpisah untuk operasi khusus di Laut Baltik melawan Armada Baltik Rusia. Setelah kekalahan Jerman pada November 1918, Sekutu menahan sebagian besar Armada Laut Lepas di Scapa Flow, tempat armada tersebut akhirnya ditenggelamkan pada Juni 1919, beberapa hari sebelum pihak-pihak yang bertikai menandatangani Perjanjian Versailles.
Lihat pula
Referensi
- Beesly, Patrick (1984). Room 40: British Naval Intelligence, 1914–1918. Oxford: Oxford University Press. ISBN 0-19-281468-0.
- Bennett, Geoffrey (2006). The Battle of Jutland. London: Pen and Sword Military Classics. ISBN 1-84415-300-2.
- Campbell, John (1998). Jutland: An Analysis of the Fighting. London: Conway Maritime Press. ISBN 1-55821-759-2.
- Gardiner, Robert; Chesneau, Roger, ed. (1980). Conway's All the World's Fighting Ships 1922–1946. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-913-8.
- Gardiner, Robert; Gray, Randal, ed. (1985). Conway's All the World's Fighting Ships 1906–1921. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-907-3.
- Gröner, Erich (1990). German Warships: 1815–1945. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 0-87021-790-9.
- Halpern, Paul G. (1995). A Naval History of World War I. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 1-55750-352-4.
- Herwig, Holger (1980). "Luxury" Fleet: The Imperial German Navy 1888–1918. Amherst: Humanity Books. ISBN 978-1-57392-286-9.
- Heyman, Neil M. (1997). World War I. Westport: Greenwood Publishing Group. ISBN 0-313-29880-7.
- Hildebrand, Hans H.; Röhr, Albert & Steinmetz, Hans-Otto (1993). Die Deutschen Kriegsschiffe: Biographien – ein Spiegel der Marinegeschichte von 1815 bis zur Gegenwart [The German Warships: Biographies − A Reflection of Naval History from 1815 to the Present] (dalam bahasa Jerman). Vol. 2. Ratingen: Mundus Verlag. ISBN 978-3-7822-0210-7.
- Lambert, Nicholas (2012). Planning Armageddon. Cambridge: Harvard University Press. ISBN 978-0-67406-149-1.
- Massie, Robert K. (2003). Castles of Steel: Britain, Germany, and the Winning of the Great War at Sea. New York City: Ballantine Books. ISBN 978-0-345-40878-5.
- "New Apparatus for Coaling Warships". Industrial Magazine. 6 (1). Collingwood: The Browning Press: 65–66. 1907.
- Padfield, Peter (2005). The Great Naval Race: Anglo-German Naval Rivalry 1900–1914. Edinburg: Birlinn. ISBN 978-1-84341-013-3.
- Sondhaus, Lawrence (2001). Naval Warfare, 1815–1914. London: Routledge. ISBN 978-0-415-21478-0.
- Staff, Gary (2006). German Battlecruisers: 1914–1918. Oxford: Osprey Books. ISBN 1-84603-009-9.
- Staff, Gary (2010). German Battleships: 1914–1918 (Volume 1). Oxford: Osprey Books. ISBN 978-1-84603-467-1.
- Staff, Gary (2010). German Battleships: 1914–1918 (Volume 2). Oxford: Osprey Books. ISBN 978-1-84603-468-8.
- Sweetman, Jack (1997). The Great Admirals: Command at Sea, 1587–1945. Annapolis: Naval Institute Press. ISBN 978-0-87021-229-1.
- Tarrant, V. E. (1995). Jutland: The German Perspective. London: Cassell Military Paperbacks. ISBN 0-304-35848-7.
- van der Vat, Dan (1986). The Grand Scuttle. Worcester: Billing & Sons Ltd. ISBN 0-86228-099-0.
- Woodward, David (1973). The Collapse of Power: Mutiny in the High Seas Fleet. London: Arthur Barker Ltd. ISBN 0-213-16431-0.
Bacaan lanjutan
- Hobson, Rolf (2002). Imperialism at Sea: Naval Strategic Thought, the Ideology of Sea Power, and the Tirpitz Plan, 1875–1914. Studies in Central European Histories. Brill Academic Pub. ISBN 978-0391041059.
- Scheer, Reinhard (1920). Germany's High Seas Fleet in the World War. Cassell and Company, ltd. OCLC 2765294.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


