Anaktoria

Anaktoria (bahasa Yunani Kuno: Ἀνακτορία) adalah seorang wanita yang disebutkan dalam karya penyair Yunani kuno Sapfo. Sapfo, yang menyulis pada akhir abad ketujuh dan awal abad keenam SM, menyebut Anaktoria sebagai objek keinginannya dalam puisi yang dinomori sebagai fragmen 16. Puisi lainnya, fragmen 31, secara tradisional disebut "Pujian untuk Anaktoria", meskipun tak ada nama yang muncul di dalamnya. Sebagaimana yang digambarkan oleh Sapfo, Anaktoria nampaknya adalah pengikut aristokratik darinya, dengan usia menikah. Diyakini, fragmen 16 ditulis dalam hubungannya dengan perkawinannya dengan seorang pria yang tak diketahui. Nama "Anaktoria" juga dianggap merupakan sebuah pseudonim, mungkin seorang wanita bernama Anagora dari Miletus, atau penciptaan arketipe dari khayalan Sapfo.

"Anactoria" karya penyair Inggris Algernon Charles Swinburne diterbitkan dalam kumpulan syair tahun 1866 buatannya, Poems and Ballads. "Anactoria" ditulis dari sudut pandang Sapfo, yang mengalamatkan karakter utama dalam monolog panjang yang ditulis dalam bait ritme pentameter iambik. Monolog tersebut mengekspresikan perasaan Sapfo terhadapnya dalam istilah yang eksplisit secara seksual. Ia mula-mula menolak seni dan dewa-dewi demi cinta Anaktoria sebelum menyatakan pendiriannya dan diklaim menolak Anaktoria dalam hal syair. Puisi Swinburne menciptakan sensasi karena secara terbuka mengungkapkan topik-topik tabu kala itu seperti lesbianisme dan disteisme. Anaktoria kemudian muncul dalam sebuah sandiwara tahun 1896 karya H. V. Sutherland dan serangkaian syair tahun 1961 "Three Letters to Anaktoria" karya Robert Lowell, sebuah karya yang mencantumkan seorang pria tak bernama yang mencintainya sebelum mengalihkan, tanpa penjelasan, perasaannya kepada Sapfo.

Dalam Sapfo

Beberapa orang berujar soal pasukan berkuda, lainnya
berujar soal prajurit pejalan kaki, meskipun lainnya berkata armada
adalah hal sempurna pada sisi gelap.
Aku menyatakan bahwa ini adalah hal yang aku kasihi.

Setiap orang dapat memahami ini – menganggap
bahwa Helen, jauh melampaui kecantikan
abadi, ditinggalkan di balik
sosok terbaik dari semuanya

untuk berlayar ke Troya. Ia mengingat
putri maupun orangtuanya,
karena [Afrodit] menjauhkannya

. . . [tak] mengikat . . . pemikiran
. . . menerangkan . . . pikiran.
. . . mengingatkanku kini
Anaktoria telah bergi.

Aku akan lebih baik melihat langkah kasihnya
dan percikan pancaran wajahnya
ketimbang seluruh kereta kuda perang di Lydia
dan para prajurit yang bertempur dengan senjata.

Tak mungkin . . . terjadi
. . . manusia, selain berdoa untuk sebuah bagian
. . . dan untuk diriku

— Sapfo 16, diterjemahkan oleh Diane Rayor[1]

Anaktoria disebut oleh penyair Yunani kuno Sappho, yang menulis pada akhir abad ketujuh dan awal abad keenam SM dan dikenal karena puisi cintanya, dalam fragmen 16.[a] Sapfo membandingkan keinginannya terhadap Anaktoria, yang dikatakan sedang tidak ada, dengan Helen dari Troya untuk Paris.[2][b] Puisi kedua, fragmen 31, secara tradisional disebut "Pujian kepada Anaktoria", meskipun tak ada nama yang muncul di dalamnya.[4] Anaktoria juga diyakini merupakan karakter tanpa nama dalam fragmen 96, yang ditulis kepada pengikut perempuan Sapfo lainnya, mungkin Atthis.[5] Dalam puisis tersebut, Sapfo mengklaim bahwa karakter tanpa nama tersebut masih "masih memikirkan [Sapfo]" meskipun tinggal jauh di kota Sardis.[6][c]

Dalam penggalan Garry Wills, fragmen 16 menggambarkan Anaktoria "menghimpun keinginan".[8] Sapfo menyebut cara berjalannya atraktif, dan wajahnya memiliki amarychma, sebuah karak yang secara harfiah memiliki arti 'sorotan' atau 'percikan' dan nampaknya juga menandakan kecantikan dalam gerakan.[9] Berdasarkan pada alusinya dengan karya-karya sastra lainnya, terutama karya-karya Hesiod, istilah tersebut menandakan bahwa Anaktoria adalah gadis perawan muda dengan usia menikah.[10] Anaktoria yang dicantumkan dalam karya Sapfo umumnya dianggap merupakan pengikut Sapfo, yang mendidik para gadis aristokrat dengan tujuan menyiapkan mereka untuk pernikahan.[11][d]

Rujukan kepada "Anagora" dalam Suda, sebuah ensiklopedia Bizantium abad kesepuluh, umum dianggap merujuk kepada Anaktoria;[14] nama "Anagora" ditafsirkan sebagai kekeliruan dalam manuskrip,[11] atau secara alternatif oleh Denys Page sebagai nama sebenarnya dari "Anaktoria", yang disebut oleh Page dipakai oleh Sapfo untuk memberikan sebuah psedonim untuk melindungi identitas dan reputasinya.[15] Suda menyebut "Anagora" berasal dari Miletus, sebuah kota Yunani besar di Ionia.[e] Christopher Brown berpendapat bahwa ketiadaan Anaktoria dalam fragmen 16 adalah karena ia berhenti mengikuti Sapfo untuk kembali ke Miletus dan menikah;[11] Eric Dodson-Robinson berpendapat bahwa fragmen 16 ditulis untuk pertunjukan di pernikahan Anaktoria, atau untuk acara simpotik tak lama setelahnya.[17] Namun, George Koniaris berpendapat bahwa Anaktoria sama-sama berhenti mengikuti Sapfo demi keluarganya atau berkarya sebagai musisi,[18] dan Glenn Most menekankan bahwa puisi tersebut tak memberikan tanda jangka waktu ketiadaan Anaktoria: ia berpendapat bahwa ini menjadi satu-satunya persoalan selama beberapa hari.[19] Martin West berpendapat bahwa Sapfo memakai nama obyek dari keinginannya, seperti Anaktoria, kala menggambarkan hubungan mereka dengannya kala berakhir atau sikapnya sendiri terhadapnya sebagai pergesekan.[20]

Cinta yang diekspresikan oleh Sapfo untuk Anaktoria adalah salah satu contoh keinginan sesama jenis yang diekspresikan wanita untuk bertahan dari sastra pra-modern.[21] Andrew Ford berpendapat bahwa penyajian Sapfo terhadap Anaktoria menjadi arketipe alih-alih perwakilan sosok spesifik apapun,[15] sementara Judith Hallett dan André Lardinois berpendapat bahwa pembicara tersebut tak berniat menjadikannya penggambaran autobiografi dari Sapfo sendiri.[22] Klasikis dan arkeolog David Moore Robinson menyebut deskripsi Anaktoria dalam fragmen 16 sebagai "baris paling sempurna dalam seluruh puisi Sapfo".[23]

Sambutan

Dalam sastra klasik

Anactoria nyaris tak disinggung dalam sumber-sumber kuno di luar karya-karya Sapfo.[15] Ia disebutkan dalam sebuah puisi yang secara tradisional diatribusikan dengan penyair Romawi abad pertama SM Ovid; bab kelima belas dari karyanya Heroides.[f] Puisi tersebut dibayangkan sebagai surat dari Sapfo kepada kekasih laki-lakinya Phaon, kala Sapfo diklaim bahwa cintanya terhadap Phaon membuat opara mantan kekasih perempuannya, termasuk Anaktoria, nampak tak menguntungkan baginya.[26] Pada abad kedua M, retorikawan Maximus dari Tyre membandingkan hubungan antara Sapfo dan Anaktoria dengan filsuf Sokrates dan para pengikut laki-lakinya seperti Alkibiades.[27] Baik Maximus maupun Suda mendaftarkan Anaktoria sebagai murid kesayangan Sapfo.[11]

Dalam budaya modern

Sapfo dan Alkaeus (1881), dilukis oleh Lawrence Alma-Tadema. Nama Anaktoria nampak di dekat tengah lukisan.[g]

Penyair Inggris abad kesembilan belas Algernon Charles Swinburne menulis sebuah puisi panjang, berjudul "Anactoria", yang diterbtikan dalam kumpulan syair tahun 1866 buatannya Poems and Ballads. Puisi tersebut ditulis dari sudut pandang Sapfo, yang mengalamatkan Anaktoria dalam monolog panjang dalam bait ritme pentameter iambik, yang mencantumkan fragmen-fragmen dari puisi Sapfo: baris pertama puisi tersebtu adalah "My life is bitter with thy love" (hidupku pahit dengan cintamu), yang diambil dari fragmen 130.[29] "Anactoria" menghadirkan cinta dan pujian Sapfo untuk Anaktoria sebagai sumber inspirasi puitisnya.[30] Dalam baris puisi tersebut, Anaktoria nyaris meninggalkan Sapfo, dan Sapfo awalnya memohon kepada dewi Afrodit untuk mengembalikan Anaktoria kepadanya.[31] Namun, pada akhirnya, Sapfo menolak Anaktoria dan dewa-dewi dalam rangka bersyair, yang awalnya memproklamasikan kehendak dirinya untuk berkorban demi cinta Anaktoria.[32] Catherine Maxwell menjelaskan Anaktoria dan Sapfo sebagai perwakilan puitis dari Swinburne sendiri.[33][h]

Puisi tersebut bersifat sensasional dan kontroversial karena mempertunjukkan topik-topik tabu seperti lesbianisme, kanibalisme dan disteisme, serta karena parodi teks-teks Sapfo dan Alkitab.[35] Isinya merincikan seksual dan sadomasokistik; karya tersebut dijuluki "pornografi terang-terangan" dalam artikel tahun 1971 karya David Cook.[36] Publikasi Swinburne dari "Anactoria", bersama dengan "Sapphics" buatannya, berujung pada apa yang Lawrence Lipking sebut sebagai "ostrakisme"-nya.[37] Catherine Maxwell dan Stefano Evangelista menyebut "Anactoria" meraih "ketenaran" dan salah satu puisi paling terkenal karya Swinburne.[38] Para kritikus pada masa berikutnya membacanya sebagai tanggapan terhadap otoritas puitis Romantis, sebuah kritikan terhadap ortodoksi keagamaan dan seksual Victorian, dan meditasi terhadap posisi Sapfo dalam sejarah dan sastra.[34]

Kala menjadi mahasiswa di Universitas Harvard, H. V. Sutherland menulis sebuah drama bait, Sappho, or Archilochus and Hipponax, yang dipertunjukkan oleh Harvard dan para mahasiswa Wellesley pada Januari 1896. Dalam sandiwara tersebut, Anaktoria awalnya dicintai oleh penyair Alkaeus, yang meninggalkannya demi Sapfo.[39] Dalam kumpulan syair tahun 1961 Imitations, penyair Amerika Serikat Robert Lowell menulis "Three Letters to Anaktoria", serangkaian puisi yang meliputi adaptasi fragmen 31 karya Sapfo sebagai permulaannya. Dalam kumpulan syair karya Lowell, seorang sosok hipotetikal tanpa nama yang disebutkan dalam fragmen 31 menjadi subyek utama dari seri tersebut: ia mencintai Anaktoria, mengalihkan perasaannya ke Sapfo, dan kemudian, menurut Lowell, "menarik diri atau meninggal".[40] Dalam lukisan, nama Anaktoria disebutkan pada salah satu kursi teater yang digambarkan dalam karya tahun 1881 Sapfo dan Alkaeus karya Lawrence Alma-Tadema.[41]

Catatan kaki

Catatan penjelas

  1. ^ Puisi Sapfo yang masih ada nyaris sepenuhnya berada dalam fragmen-fragmen tak berjudul, yang dikenal dengan bilangan dalam edisi modern. Lihat Gordon 2002, hlm. v–vii, dan Goff & Harloe 2021, hlm. 396.
  2. ^ Ilja Leonard Pfeijffer berpendapat bahwa Sapfo juga secara rinci membandingkan Anaktoria dengan Helen, keduanya sama-sama mempertunjukkan kecantikannya dan mengaitkan Sapfo dengan suami sah Helen, Menelaus.[3]
  3. ^ Bruno Lavagnini [it] beranggapan pada 1937 bahwa karakter absen tersebut adalah Anaktoria, dan bahwa ia pergi untuk menjadi permaisuri raja Lidia Alyattes di Sardis. Denys Page menyatakan bahwa tak ada bukti tertulis pada Sapfo yang mendasari anggapan tersebut, atau identifikasi cocok dari karakter tersebut dengan Anaktoria.[7]
  4. ^ Sebuah penafsiran terkenal pada abad kesembilan belas dan awal abad kedua puluh menyatakan bahwa Sapfo memegang jabatan resmi sebagai guru atau "gundik sekolah", umumnya dianggap merupakan anakronistik dan tak diduduki oleh bukti yang tersedia.[12] Kekhasan antara "pengikut" dan "murid" Sapfo, yang ditunjukkan dalam Suda, tak nampak mewujudkan kenyataan: jika Sapfo memiliki peran pedagogi, yang tak dibuktikan dalam tulisannya sendiri, nampaknya melebihkannya dengan hubungan pribadi dan erotisnya.[13]
  5. ^ Anaktoria adalah nama alternatif untuk Miletus: berbagai tradisi menghubungkan nama tersebut dengan nama raja mistis bernama Anax.[16]
  6. ^ Kepengarangan puisi tersebut tidak jelas: beberapa cendekiawan mempersengketakan identifikasi tradisional Ovid sebagai pengarang.[24] Charles E. Murgia berpendapat bahwa karya tersebut ditulis setelah Epistula ex Ponto karya Ovid dan sebelum tragedi karya Seneca (yang wafat pada 65 M), mungkin karya seorang penyair tak diketahui dari generasi setelah Ovid.[25]
  7. ^ Digamma (Ϝ) ditulis pada permulaan nama Anaktoria, dengan bunyi suara mirip dengan w dalam bahasa Inggris, tak seperti yang diucapkan dalam dialek Sapfo.[28]
  8. ^ Swinburne, dalam surat tahun 1880, menyebut Sapfo sebagai "penyair terbesar yang pernah ada secara keseluruhan".[34]

Referensi

  1. ^ Rayor & Lardinois 2014, hlm. 33.
  2. ^ Purves 2021, hlm. 176. Untuk terjemahan puisi, lihat Spraggs 2006a. Untuk penanggalan Sapfo, lihat Kivilo 2010, hlm. 198, n. 174
  3. ^ Pfeijffer 2000, hlm. 6.
  4. ^ Wharton 1908, hlm. 25, 35–36; Prins 2020, hlm. 66 (untuk nama dan alam tradisionalnya); Spraggs 2006b (untuk teks puisi).
  5. ^ Greenberg 1991, hlm. 80–81; Barnstone 2010, hlm. 305. Greenberg menomori fragmen tersebut dengan bilangan 141, mengikuti Barnstone 1962. Untuk identifikasi Atthis, lihat Rayor & Lardinois 2014, hlm. 124.
  6. ^ Greenberg 1991, hlm. 80–81; Barnstone 2010, hlm. 305.
  7. ^ Page 1955, hlm. 93, mengutip Lavagnini 1937, hlm. 139–140.
  8. ^ Wills 1967, hlm. 442.
  9. ^ Brown 1989, hlm. 7–9.
  10. ^ Brown 1989, hlm. 13–14.
  11. ^ a b c d Brown 1989, hlm. 14.
  12. ^ Campbell 1967, hlm. 261; Klinck 2008, hlm. 15–19; Rayor & Lardinois 2014, hlm. 15.
  13. ^ MacLachlan 1997, hlm. 161; Klinck 2008, hlm. 19; Lardinois 2022, hlm. 272.
  14. ^ Rayor & Lardinois 2014, hlm. 5.
  15. ^ a b c Ford 2011, hlm. 120.
  16. ^ Schmitz 1870, hlm. 162.
  17. ^ Dodson-Robinson 2010, hlm. 15–17.
  18. ^ Koniaris 1967, hlm. 266.
  19. ^ Most 1981, hlm. 12.
  20. ^ West 1970, hlm. 318–320; Most 1996, hlm. 35.
  21. ^ Rupp 2012, hlm. 853–854.
  22. ^ Hallett 1979, hlm. 463; Lardinois 2021, hlm. 170.
  23. ^ Robinson 1963, hlm. 242.
  24. ^ Tarrant 1981; Rosati 1996, hlm. 207; Rimell 1999, hlm. 110–111.
  25. ^ Murgia 1985, hlm. 466, 472.
  26. ^ Ford 2011, hlm. 203.
  27. ^ Johnson 2012, hlm. 8.
  28. ^ Prins 1996, hlm. 44.
  29. ^ Parker 2013, hlm. 202.
  30. ^ Zonana 1990, hlm. 42–43.
  31. ^ Cook 1971, hlm. 87; Greenberg 1991, hlm. 80.
  32. ^ Cook 1971, hlm. 90.
  33. ^ Maxwell 2001, hlm. 40.
  34. ^ a b Wagner-Lawlor 1996, hlm. 917.
  35. ^ Morgan 1984, hlm. 180; Wagner-Lawlor 1996, hlm. 922.
  36. ^ Cook 1971, hlm. 77; Dellamora 1990, hlm. 78.
  37. ^ Lipking 1988, hlm. 2.
  38. ^ Maxwell & Evangelista 2013, hlm. 6.
  39. ^ Robinson 1963, hlm. 219–220.
  40. ^ Lipking 1988, hlm. 118–119.
  41. ^ Robinson 1963, hlm. 32.

Kutipan karya

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement