Al-Ashraf Sha'ban

Sha'ban
Al-Malik al-Ashraf
Koin tembaga Sha'ban II dari Hamat, sekarang di British Museum.
Sultan Mesir
Berkuasa29 Mei 1363 – 15 Maret 1377
PendahuluAl-Mansur Muhammad
PenerusAli
Kelahiran1353/54
Kematian15 Maret 1377
(umur 23–24)
Pemakaman
KeturunanAl-Mansur Ali
Abu Bakr
Ahmad
Ramadan
Qasim
Muhammad
Isma'il
As-Salih Hajji
Nama lengkap
Al-Malik al-Ashraf Zainuddin Abu al-Ma'ali Sha'ban bin Husain bin Muhammad bin Qalawun
WangsaQalawuni
DinastiBahri
AyahAl-Amjad Husain
AgamaIslam Sunni

Al-Ashraf Zainuddin Abu al-Ma'ali Sha'ban bin Husayn bin Muhammad bin Qalawun (Arab: الأشرف زين الدين شعبان, har.'Yang Maha Mulia, Anugerah Iman, Bapak Segala Keunggulan, Sya'ban putra Husain, putra Muhammad, putra Qalawun'), lebih dikenal sebagai al-Ashraf Sha'ban (atau Sha'ban II), adalah sultan Mamluk Turk dari Dinasti Bahri yang memerintah antara tahun 1363 hingga 1377. Ia merupakan cucu Sultan al-Nasir Muhammad. Dari delapan orang anaknya, dua di antaranya kemudian naik takhta sebagai sultan, yaitu al-Mansur Ali dan as-Salih Hajji.[1]

Kehidupan awal

Sha'ban lahir pada tahun 1353/1354.[2] Ayahnya adalah al-Amjad Husain (wafat 1363), putra Sultan al-Nasir Muhammad yang,[2] tidak seperti banyak saudaranya, tidak pernah memerintah sebagai sultan. Ibunya adalah Khawand Baraka (wafat 1372), seorang mantan budak jariya yang kemudian dinikahi oleh al-Amjad Husain.[3][4] Sha'ban memiliki empat saudara—Anuk (wafat 1390/1391), Ibrahim, Ahmad, dan Janibak (wafat 1428)—serta tiga saudari, yaitu Zahra (wafat 1370), Shaqra (wafat 1401), dan Sara (wafat 1432).[2]

Memerintah

Pada akhir Mei 1363, para pembesar Mamluk yang terdiri dari para amir senior dan dipimpin oleh Amir Yalbugha al-Umari, menurunkan Sultan al-Mansur Muhammad dengan tuduhan perilaku tidak pantas, lalu mengangkat al-Ashraf Sha'ban yang saat itu berusia sepuluh tahun sebagai penggantinya. Yalbugha dan para amir menganggap al-Ashraf Sha'ban hanya sebagai penguasa boneka yang mudah dikendalikan. Yalbugha kemudian mengambil alih kekuasaan sebagai wali yang sebenarnya.[5]

Pada Desember 1366, sejumlah amir senior dan para mamluk Yalbugha sendiri melancarkan pemberontakan terhadapnya. Awalnya banyak mamluk Yalbugha yang tetap setia, tetapi ketika al-Ashraf Sha'ban, yang ingin memerintah secara mandiri, memihak kepada para pemberontak, para mamluk itu pun berbalik melawan tuannya.[6]

Setelah Yalbugha ditangkap dan dibunuh oleh para mamluknya, al-Ashraf Sha'ban mengangkat beberapa dari mereka menjadi amir, tetapi sebagian besar tidak mendapat jabatan atau pelindung.[6] Saat itu, al-Ashraf Sha'ban hanya memiliki sekitar 200 mamluk pribadi, jumlah yang sedikit karena selama masa kekuasaan Yalbugha ia tidak memiliki kendali nyata.[7] Pada Juni 1367, sebagian besar mantan mamluk Yalbugha telah bergabung dalam pasukan Amir Asandamur an-Nasiri, yang berhasil menyingkirkan para amir saingannya.[8]

Pada akhir 1367, Asandamur bersama para mamluknya yang baru merebut kekuasaan berusaha menggulingkan al-Ashraf Sha'ban, tetapi mereka berhasil dikalahkan.[9] Pemberontakan ini juga didukung oleh Amir Khalil bin Qawsun, putra mantan wali Amir Qawsun (wafat 1342) dan seorang putri an-Nasir Muhammad. Khalil, yang sebelumnya diangkat oleh al-Ashraf Sha'ban sebagai atabeg al-asakir (panglima tertinggi), dijanjikan takhta oleh Asandamur.[10]

Menurut sejarawan Mamluk sezaman, al-Nuwayri al-Iskandarani, al-Ashraf Sha'ban mendapat bantuan besar dari rakyat biasa yang memerangi para pemberontak mamluk dan menewaskan banyak dari mereka.[11] Dukungan rakyat ini dipimpin oleh dua komandan setia al-Ashraf Sha'ban, yaitu Amir Asanbugha bin al-Abu Bakri dan Qushtamur al-Mansuri. Keduanya sempat mundur dari medan perang di Kairo, meninggalkan rakyat untuk bertempur sendiri melawan pasukan Asandamur.[12] Namun rakyat berhasil membalik keadaan dan membuat pasukan al-Ashraf Sha'ban kembali maju, mengalahkan para pemberontak,[12] dan menangkap Asandamur.[9] Karena kesetiaan dan bantuan besar rakyat dalam pemberontakan itu, al-Ashraf Sha'ban memperlakukan mereka dengan baik sepanjang masa pemerintahannya.[12]

Pada tahun 1373, beberapa mantan mamluk Yalbugha yang masih hidup, termasuk Barquq (yang kelak menjadi sultan), diizinkan kembali ke Kairo dari pengasingan untuk melatih para mamluk milik al-Ashraf Sha'ban.[13] Pada Juni/Juli tahun yang sama, terjadi konflik antara al-Ashraf Sha'ban dan Amir Uljay al-Yusufi.[14] Rakyat kembali mengangkat senjata dan bergabung dengan pasukan setia al-Ashraf Sha'ban.[12] Setelah sekitar sebelas pertempuran, al-Ashraf Sha'ban berhasil membujuk para amir dan mamluk berpangkat rendah dari pihak Uljay untuk berpihak kepadanya melalui perantara Amir Aynabak al-Yalbughawi.[14] Uljay akhirnya tewas pada tahun itu.[15]

Pada 1374, Mesir mengalami kelaparan yang berlangsung selama dua tahun. Untuk meringankan penderitaan rakyat, al-Ashraf Sha'ban berusaha menyediakan makanan bagi kaum miskin dengan membagi tanggung jawab keuangan kepada para amir dan pedagang kaya Kairo.[16]

Tahun berikutnya, 1375, al-Ashraf Sha'ban menaklukkan kota Sis, benteng terakhir Kerajaan Armenia Kilikia. Penaklukan ini mengakhiri keberadaan kerajaan tersebut dan memperluas wilayah kekuasaan Mamluk hingga Pegunungan Taurus di Anatolia selatan.[17]

Kematian

Pada Maret 1376, al-Ashraf Sha'ban berangkat menunaikan ibadah haji ke Mekah. Setelah ia meninggalkan Mesir, Aynabak memimpin pemberontakan para mamluk kerajaan dan mamluk pengangguran melawan sang sultan.[14] Di saat yang sama, pasukan pengawal Mamluk yang menyertai al-Ashraf Sha'ban juga memberontak terhadapnya.[18] Al-Ashraf Sha'ban sempat mencoba melarikan diri, tetapi akhirnya tertangkap oleh para pemberontak di Aqaba.[19] Atas janji jabatan dari Aynabak, Amir Jarkas as-Sayfi mencekik dan membunuh al-Ashraf Sha'ban pada tahun 1377.[18] Setelah itu, para pemberontak mengangkat salah satu putranya, al-Mansur Ali, sebagai penggantinya.

Jenazah al-Ashraf Sha'ban dimakamkan di salah satu makam madrasah yang ia bangun untuk ibunya di kawasan Darb al-Ahmar, karena kompleks makam pribadinya belum sempat diselesaikan.[20]

Referensi

  1. ^ Williams, pp. 16-17
  2. ^ a b c Bauden, Frédéric. "The Qalawunids: A Pedigree" (PDF). University of Chicago. Diakses tanggal 2016-02-25.
  3. ^ Harvard Middle Eastern and Islamic Review (dalam bahasa Inggris). Center for Middle Eastern Studies, Harvard University. 1994. hlm. 165. Khawand Baraka, the mother of Sulṭān Sha'ban b . Husayn " in 770/1368 . She was a jariyya, who acquired royal status when her son, al - Ashraf Sha'bān, rose to power and became a sultan .
  4. ^ Al-Harithy, p. 332.
  5. ^ Steenbergen 2011, p. 437.
  6. ^ a b Steenbergen 2001, pp. 139–140
  7. ^ Ayalon 2005, p. 63.
  8. ^ Steenbergen 2001, p. 141.
  9. ^ a b Steenbergen 2011, pp. 142–143.
  10. ^ Levanoni 2006, p. 100.
  11. ^ Steenbergen 2011, p. 143.
  12. ^ a b c d Levanoni 1995, pp. 111–112.
  13. ^ Steenbergen 2011, p. 145.
  14. ^ a b c Levanoni 1995, p. 103.
  15. ^ Sabra, Adam (2000). Poverty and Charity in Medieval Islam: Mamluk Egypt, 1250-1517. Cambridge University Press. hlm. 51. ISBN 9780521772914.
  16. ^ Raphael, Sarah Kate (2013). Climate and Political Climate: Environmental Disasters in the Medieval Levant. Brill. hlm. 100. ISBN 9789004244733.
  17. ^ Har-El, Shai (1995). Struggle for Domination in the Middle East: The Ottoman-Mamluk War, 1485-91 (dalam bahasa Inggris). Brill. hlm. 34–35. ISBN 978-90-04-10180-7.
  18. ^ a b Levanoni 1995, p. 104.
  19. ^ Haarmann 1998, p. 68.
  20. ^ Doris Behren-Abouseif (2007). Cairo of the Mamluks: A History of its Architecture and its Culture. The American University in Cairo Press.

Bibliografi

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement