Akkattere
Artikel ini sebatang kara, artinya tidak ada artikel lain yang memiliki pranala balik ke halaman ini. Bantulah menambah pranala ke artikel ini dari artikel yang berhubungan. (Juni 2025) |

Tradisi Akattere' adalah ritual adat pemotongan rambut yang dijalankan oleh masyarakat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tradisi ini sering dibandingkan dengan praktik akikah dalam Islam, tetapi memiliki unsur lokal dan nilai spiritual yang khas.
Wilayah dan Adat Kajang
Tradisi ini dilaksanakan di wilayah adat Ammatoa, Desa Tana Toa. "Tana Toa" dalam bahasa Konjo berarti "Tanah yang tua." Wilayah ini terbagi dua: Ilalang Embaya (dalam) dan Ipantarang Embaya (luar). Warga Kajang Dalam hidup dalam kesederhanaan (kamase-mase), melepaskan alas kaki, berpakaian hitam, dan tidak menggunakan listrik.
Suku Kajang memegang teguh hukum adat Pappasang, yakni aturan hidup turun-temurun yang wajib dipatuhi. Semua rumah di wilayah ini menghadap ke barat sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Pelaksanaan Ritual Akattere'
Ritual Akattere' dilakukan oleh keluarga yang mampu. Biasanya, anak yang akan "nikattere'" (dipotong rambutnya) dimandikan terlebih dahulu (paje’neki) dan dikalungi benang putih (ganti) sebagai simbol keterikatan kepada Tuhan.
Prosesi utama berlangsung di "tabere" (area ritual yang dibatasi empat bambu). Anak-anak duduk di dalamnya bersama uragi (pemimpin ritual). Ritual awal adalah akkatto salahi yakni pemotongan kalung benang putih, lalu puncaknya adalah pemotongan rambut (dengan badik untuk laki-laki dan pisau untuk perempuan) oleh pemangku adat.
Setelah itu, digelar a’dedde songkolo (penyusunan nasi ketan hitam berbentuk gunung setinggi ±20–25 cm), dilengkapi daging kerbau dan dumpi eja (kue merah) yang disajikan untuk para pemangku adat.
Tokoh Adat dan Struktur Pemangku Adat
Ritual ini dipimpin oleh:
- Ada’ Lima: lima Gallarang dengan tugas spesifik seperti Galla Pantama (pertanian), Galla Lombo’ (hubungan luar), Galla Kajang (penegak hukum adat), Galla Puto’, dan Galla Malleleng.
- Karaeng Tallu: tiga pemangku adat yakni Karaeng Kajang (Labbiria), Sulehatang, dan Moncong Buloa.
Total ada 26 pemangku adat yang hadir, termasuk kelompok tersebut.
Perlengkapan dan Biaya
Ritual ini tergolong besar dan mahal:
- 3.147 liter ketan hitam (pulu’ le’leng)
- 200 liter beras biasa
- Daging kerbau wajib
Perlengkapan penting:
- Tabere, Baju bodo, Songkolo, Baku’, Tope le’leng
- Parang (berang buru’ne untuk laki-laki, berang bahine untuk perempuan)
- Pandingingi (air dengan daun), kelapa muda, kamboti, kain putih, kanjoli, bedak & minyak, pakkapi’
Nilai dan Makna
Akattere' diyakini sebagai bentuk penyucian diri dan pengingat akan Tuhan. Anak yang telah nikattere’ harus menjaga ucapan dan perilaku. Tidak semua masyarakat Kajang boleh melaksanakan ritual ini; hanya keturunan Ammatoa dan Karaeng yang diizinkan.
Hiburan dan Penyambutan
Tamu adat disambut dengan kalomping (pinang dan sirih) dan dihibur dengan kelong jaga (nyanyian adat) yang diiringi palingoro (gendang). Makanan disajikan secara gotong-royong.
Referensi
- ^ "Menelusuri Lebih Dalam Tradisi Akattere' Suku Kajang Bulukumba". Domain Rakyat. Juni 2024. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
- ^ "Tradisi Akkattere Di Desa Tanah Towa..." Rumah Jurnal UIN Alaudin Makassar. 2019. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
- ^ "Ritual Akkattere Sebagai Kepercayaan Masyarakat di Desa Tanah Towa". Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala. 4 Januari 2022. Diakses tanggal 19 Juni 2025.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


