Ahmad Shodiq
Artikel ini membutuhkan lebih banyak pranala ke artikel lain untuk meningkatkan kualitasnya. (Juni 2025) |
Ahmad Shodiq atau dikenal dengan sebutan Mbah Kiai Ahmad Shodiq merupakan ulama sederhana dan tidak berafiliasi dengan politik. Ia lahir pada tahun 1917 masehi, dan meninggal pada hari Jumat 18 Januari 1980 masehi di Dusun Pasirraja, Desa Bantarsoka, Kecamatan Purwokerto Barat. Selain sebagai tokoh penyebar syiar agama Islam di Purwokerto, Ahmad Shodiq juga merupakan seorang mursyid tarekat Syadziliyah yang diturunkan dari gurunya, Muhammad Ma’ruf Mangunwiyoto dari Surakarta.[1]
Latar belakang keluarga
Ahmad Shodiq dikenal sebagai tokoh penyebar ajaran Islam di wilayah Purwokerto dan sekitarnya. Ia merupakan seorang mursyid dalam tarekat Syadziliyah, yang silsilah keilmuannya bersambung kepada gurunya, Muhammad Ma’ruf Mangunwiyoto dari Surakarta. Ayahnya, Mbah Kiai Raji Mustofa, dikenal sebagai sosok yang hidup sederhana dan memiliki komitmen tinggi dalam mempelajari ajaran agama. Ia berpesan kepada Mbah Shodiq agar meneladani pola hidup dan prinsip-prinsip keagamaannya.[1][2]
Ahmad Shodiq menikah dengan Nyai ‘Aisyah, seorang perempuan asal Purwokerto. Dari pernikahan tersebut, pasangan ini dikaruniai enam orang anak, yakni Kiai Ahmad Sonhaji, Nyai Muntamah, Nyai Minifah, Ning Shodiqoh, Ning Fatimah, dan Ning Sa’adah. Namun, anak-anak Mbah Kiai Shodiq tidak dapat melanjutkan perjuangannya dalam pengembangan Islam. Hal ini disebabkan oleh wafatnya seluruh putri beliau dan satu-satunya putra laki-laki, Kiai Ahmad Sonhaji, yang meninggal dunia saat masih remaja.[3]
Hidup di masa pendudukan jepang
Mbah Kiai Ahmad Shodiq bin Raji Mustofa dikenal sebagai tokoh agama yang disegani pada masa pendudukan Jepang. Ia tercatat pernah menolak perintah untuk menghadap pimpinan Jepang, suatu tindakan yang mencerminkan sikap nasionalisme dan keberaniannya dalam menolak dominasi asing. Selain itu, beliau secara aktif memberikan wejangan kepada masyarakat, khususnya generasi muda, guna menumbuhkan semangat perlawanan terhadap penjajahan. Peran dan pengaruhnya dalam membangkitkan semangat kebangsaan membuatnya dijuluki sebagai sumber inspirasi atau penguat moral bagi pemuda pada masanya.[1]
Peninggalan
Terdapat peninggalan berupa sebuah musholla bernama Langgar Kidul merupakan tempat ibadah yang ditinggalkan oleh Mbah Kiai Shodiq dan dijadikan sebagai basis dakwah kultural pada masa hidupnya. Musholla ini berperan sebagai pusat penyebaran ajaran Islam yang dilakukan oleh beliau. Saat ini, pengelolaan Musholla Langgar Kidul diteruskan oleh menantunya, Kiai Iskandar.[3]
Referensi
- ^ a b c "Mbah Kiai Ahmad Shodiq: Kiai Sederhana dan Tidak Tergiur Politik". Alif.ID. 2022-05-12. Diakses tanggal 2025-06-15.
- ^ Kurniawan, Redwan (2023). "PERANAN KH MA'RUF MANGUNWIYOTO PADA MASA REVOLUSI FISIK DI SURAKARTA (1945-1949)". DIAKRONIK: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sejarah (dalam bahasa Inggris). 17 (1). ISSN 1693-0207.
- ^ a b Wahyudi, M. Agus. Menelusuri Jejak Enam Kiai di Soloraya.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


