Abrothrix olivacea
| Abrothrix olivacea
| |
|---|---|
| Abrothrix olivaceus | |
| Status konservasi | |
| Risiko rendah | |
| IUCN | 751 |
| Taksonomi | |
| Kelas | Mammalia |
| Ordo | Rodentia |
| Famili | Cricetidae |
| Genus | Abrothrix |
| Spesies | Abrothrix olivaceus Waterhouse, 1837 |
| Tata nama | |
| Sinonim takson | Akodon olivaceus (mul) |
Abrothrix olivacea, juga dikenal sebagai tikus rumput zaitun[1] atau akodont zaitun,[2] adalah spesies hewan pengerat dalam genus Abrothrix dari keluarga Cricetidae. Spesies ini ditemukan dari Chili utara hingga Chili selatan dan Argentina, termasuk pulau-pulau di Tierra del Fuego. Populasinya rentan mengalami fluktuasi besar.
Taksonomi
Abrothrix olivacea memiliki riwayat taksonomi yang kompleks baik dalam genus Akodon maupun Abrothrix, dan mencakup sedikitnya 27 sinonim. Beberapa di antaranya, termasuk markhami, mansoensis, dan xanthorhinus, dipandang sebagai spesies valid hingga beberapa tahun terakhir, dan beberapa subspesies masih diakui, termasuk Abrothrix olivacea markhami.[3]
Ekologi
Tikus rumput zaitun sebagian besar bersifat diurnal. Di habitat berumput, hewan ini membuat jalur dan membangun sarang dari rerumputan di dalam rumpun, di antara akar, atau di bawah batu. Spesies ini dapat memanjat dan juga menggali, dan di Chili kadang menghuni liang yang dibuat oleh mamalia lain seperti coruro (Spalacopus cyanus). Makanannya terdiri atas buah beri, biji-bijian, tunas, daun, jamur, dan invertebrata kecil. Perkembangbiakan terjadi pada musim semi dan musim panas, dengan rata-rata lima anak per kelahiran. Dalam kondisi yang menguntungkan, termasuk pada tahun-tahun El Niño, populasinya dapat meningkat secara drastis. Tikus ini menjadi mangsa burung hantu gudang (Tyto tyto), burung hantu bertanduk kecil (Bubo magellanicus), berbagai burung lainnya, dan rubah.[4] Tikus rumput zaitun juga merupakan inang bagi parasit usus Acanthocephala Moniliformis amini.[5]
Ledakan populasi spesies ini kadang terjadi. Pada tahun 1990, bambu Chusquea valdiviensis mengalami fenomena pembungaan massal ketika lebih dari satu juta hektare bambu di Chili selatan berbunga secara bersamaan dan kemudian mati. Jumlah biji yang sangat besar tersebut diikuti oleh ledakan populasi tikus padi Oligoryzomys longicaudatus dan, dalam tingkat yang lebih kecil, tikus rumput zaitun. Peningkatan jumlah rodensia ini disebabkan oleh fekunditas yang lebih tinggi, tingginya tingkat kelangsungan hidup anakan, dan perpanjangan musim kawin. Karena banyak biji bambu yang tetap berada dalam spikelet berbunga selama satu tahun, puncak populasi rodensia kembali terjadi pada tahun-tahun berikutnya.[6]
Referensi
- ^ Patterson, B.; Pardinas, U.; D'Elia, G. (2017). "Abrothrix olivaceus". 2017 e.T751A22337955. doi:10.2305/IUCN.UK.2017-2.RLTS.T751A22337955.en. ;
- ^ Musser and Carleton, 2005, p. 1090
- ^ Musser and Carleton, 2005, p. 1090; Rodríguez-Serrano et al., 2008
- ^ James L. Patton; Ulyses F. J. Pardiñas; Guillermo D'Elía (9 March 2015). Mammals of South America, Volume 2: Rodents. University of Chicago Press. hlm. 123–. ISBN 978-0-226-16957-6.
- ^ Guerreiro Martins, Natalia Beatriz; Del Rosario Robles, María; Navone, Graciela Teresa (2017). "A new species of Moniliformis from a Sigmodontinae rodent in Patagonia (Argentina)". Parasitology Research. 116 (8): 2091–2099. doi:10.1007/s00436-017-5508-9. hdl:11336/64262. PMID 28585077. S2CID 33203157. Diakses tanggal February 9, 2020.
- ^ Gallardo, Milton H.; Mercado, Claudia L. (1999). "Mast seeding of bamboo shrubs and mouse outbreaks in southern Chile" (PDF). Mastozoología Neotropical. 6 (2): 103–111.
Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.


