Aborigin Tasmania

Palawa
(Aborigin Tasmania)
Daerah dengan populasi signifikan
Bahasa
Bahasa Tasmania dan Palawa kani
Gambar empat orang Aborigin Tasmania.

Aborigin Tasmania atau Aborigin Palawah adalah penduduk asli di Pulau Tasmania yang telah menghuninya selama 35 ribu tahun terakhir. Kebiasaan dari Aborigin Tasmania ialah tampil dalam ketelanjangan tubuh dengan warna kulit yang gelap, rahang dan gigi yang besar dengan lubang hidung yang melebar. Rambut Aborigin Tasmania tumbuh seperti wol dan janggut mereka tumbuh berbentuk keriting. Aborigin Tasmania hidup secara berkelompok dengan perburuan dan pengembaraan.

Nama Aborigin Tasmania didasari oleh interaksi dengan orang Belanda yang berlabuh di Pulau Tasmania pada tahun 1642 dengan dipimpin oleh Abel Tasman. Sejak abad ke-19 Masehi, Aborigin Tasmania dijadikan sebagai target perburuan oleh orang Inggris. Aborigin Tasmania hampir mengalami kepunahan akibat Perang Hitam (1828–1832) dan akhirnya dipindahkan ke Pulau Flinders pada tahun 1830. Pada tahun 1848, para Aborigin Tasmania yang hidup dengan selamat di Pulau Flinders dipindahkan ke Oyster Cove di Pulau Tasmania. Pada pertengahan abad ke-19 Masehi, pembunuhan atas Aborigin Tasmania menggunakan senjata mengakibatkan tidak ada lagi Aborigin Tasmania yang menghuni Pulau Tasmania. Kehidupan Aborigin Tasmania dijelaskan dalam Museum dan Galeri Seni Tasmania melalui koleksinya

Sejarah

Aborigin Tasmania telah menghuni Kawasan Warisan Dunia Belantara Tasmania selama 35 ribu tahun terakhir. Pada zaman es, Aborigin Tasmania merupakan bagian dari penduduk Australia daratan.[1] Karena itu, Aborigin Tasmania memiliki hubungan kekerabatan dengan Aborigin Australia.[2] Nama lain yang juga meruju ke Aborigin Tasmania ialah Aborigin Palawah.[3]

Lingkungan hidup Aborigin Tasmania selama zaman es merupakan pegunungan tipe Alpen dengan suhu rata-rata sebesar 6°C lebih sedikit dibandingkan suhu global pada tahun 2017. Aborigin Tasmania hidup dengan mengadakan perburuan walabi sebagai makanan. Perburuan diadakan dengan menggunakan batu dalam rentang sekitar 100 km dari lokasi penemuan batu.[1]

Setelah berakhirnya zaman es sekitar 10 ribu tahun lalu, Kawasan Warisan Dunia Belantara Tasmania terpisah dari Australia daratan akibat kenaikan tinggi permukaan air laut dan membentuk Pulau Tasmania. Pegunungan tipe Alpen kemudian mulai membentuk hutan basah yang menyebar di seluruh kawasan pegunungan dan hewan buruan Aborigin Tasmania mulai meninggalkannya. Karena itu, Aborigin Tasmania meninggalkan Kawasan Warisan Dunia Belantara Tasmania untuk menghuni wilayah lain di Pulau Tasmania.[1]

Penampilan dan ciri fisik

Kebiasaan dari Aborigin Tasmania ialah tampil dalam ketelanjangan.[4] Aborigin Tasmania memiliki tubuh dengan warna kulit yang gelap. Mereka memiliki rahang dan gigi yang besar dengan lubang hidung yang melebar. Rambut Aborigin Tasmania tumbuh seperti wol dan janggut mereka tumbuh berbentuk keriting.[5]

Kebudayaan

Kebudayaan dari Aborigin Tasmania tergolong sebagai salah satu kebudayaan tertua di dunia. Aborigin Tasmania hidup secara berkelompok dengan perburuan dan pengembaraan sebagai bagi dari peradaban mereka. Kebudayaan Aborigin Tasmania tidak banyak mengalami penambahan unsur kebudayaan lain karena lingkungan hidupnya yang termasuk salah satu kawasan terpencil di dunia yang terpisah dengan kebudayaan bangsa lain.[6]

Terancam kepunahan

Aborigin Tasmania pertama kali mengalami interaksi dengan orang Belanda yang berlabuh di Tasmania pada tahun 1642. Kedatangan orang Belanda di Pulau Tasmania untuk pertama kalinya dipimpin oleh Abel Tasman. Ketika itu, orang Belanda menyebut pulau yang ditinggali oleh Aborigin Tasmania sebagai Tanah Van Diemen sebelum menyebutnya sebagai Tasmania.[5]

Sejak abad ke-19 Masehi, Aborigin Tasmania dijadikan sebagai target perburuan oleh orang Inggris.[7] Aborigin Tasmania mengalami pembunuhan massal secara sistematis oleh orang Inggris selama abad ke-19.[8][9] Perburuan Aborigin Tasmania dilakukan menggunakan anjing pemburu yang akan memakan daging dari mereka yang mengalami kematian. Orang Inggris menjadikan perburuan Aborigin Tasmania sebagai olahraga pada akhir pekan pada abad tersebut.[7] Pada tahun 1828 hingga tahun 1832, terjadi Perang Hitam yang mengakibatkan Aborigin Tasmania hampir mengalami kepunahan.[10] Sebagian Aborigin Tasmania berhasil dipindahkan oleh George Augustus Robinson yang berperan sebagai pendamai bagi Aborigin Tasmania sejak tahun 1829. Robinson kemudian memimpin pemindahan Aborigin Tasmania ke Pulau Flinders dalam kawasan selat Bass pada tahun 1830.[11]

Pada tahun 1848, para Aborigin Tasmania yang hidup dengan selamat di Pulau Flinders dipindahkan ke Oyster Cove di Pulau Tasmania.[12] Pada pertengahan abad ke-19 Masehi, pembunuhan atas Aborigin Tasmania menggunakan senjata mengakibatkan tidak ada lagi Aborigin Tasmania yang menghuni Pulau Tasmania.[13]

Peninggalan

Kehidupan Aborigin Tasmania dijelaskan dalam Museum dan Galeri Seni Tasmania melalui koleksinya. Museum dan Galeri Seni Tasmania mengoleksi relik-relik yang menjelaskan mengenai kehidupan Aborigin Tasmania selama masa Koloni Tasmania. Lokasi Museum dan Galeri Seni Tasmania di Commisariat Store, Hobart.[14]

Referensi

  1. ^ a b c Department of Primary Industries, Parks, Water and Environment. (Maret 2017). Aboriginal Heritage of the Tasmanian Wilderness World Heritage Area (TWWHA): A literature review and synthesis report (PDF) (dalam bahasa Inggris). Hobart: Aboriginal Heritage Tasmania. hlm. 5. ISBN 978-1-74380-037-9. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. ^ Diamond, Jared (Desember 2017). Primanda, Andya (ed.). Guns, Germs & Steel [Guns, Germs & Steel]. Diterjemahkan oleh Setiadi, H., dan Palar, D. T. W. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 117. ISBN 978-602-4241384. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: translators list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. ^ Pram (2013). Suku Bangsa Dunia dan Kebudayaannya. Jakarta Timur: Cerdas Interaktif. hlm. 98. ISBN 978-979-788-379-9. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  4. ^ Vonnegut, Kurt (April 2019). Rahayu, Eva Sri (ed.). Buaian Kucing. Diterjemahkan oleh Hadari, Prhastuti Nastiti. Yogyakarta: Basabasi. hlm. 227. ISBN 978-602-5783-96-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  5. ^ a b Bonwick, James (1884). The Lost Tasmanian Race (PDF) (dalam bahasa Inggris). London. hlm. 1. Pemeliharaan CS1: Lokasi tanpa penerbit (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  6. ^ Ihromi, T.O., ed. (Maret 2016). Pokok-pokok Antropologi Budaya. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia. hlm. 60. ISBN 978-979-461-930-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  7. ^ a b Jacob, T. (Januari 2001). Indriati, Etty (ed.). Tahun-tahun yang Sulit: Mari Mencintai Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 11. ISBN 979-461-365-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  8. ^ Fakih, Mansour, ed. (1999). Proyek-proyek Demokrasi. INSIST Press. hlm. 187. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  9. ^ Nakagawa, Shin (2000). Musik dan Kosmos: Sebuah Pengantar Etnomusikologi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. hlm. 21. ISBN 979-461-342-8. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  10. ^ Hasmand, Fedrian (2017). Tim Pustaka Al-Kautsar (ed.). Kronologi Sejarah Islam dan Dunia (571 M S/D 2016). Jakarta Timur: Pustaka Al-Kautsar. hlm. 394. ISBN 978-979-592-774-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  11. ^ Rolls, M., dan Johnson, M. (2019). Historical Dictionary of Australian Aborigines (dalam bahasa Inggris). Lanham: Rowman & Littlefield Publishers. hlm. xxi. ISBN 9781538134351. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link) Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  12. ^ Petrović-Šteger, Maja (September 2013). Claiming the Aboriginal Body in Tasmania: An Anthropological Study of Repatriation and Redress (dalam bahasa Inggris). Ljubljana: Založba ZRC. hlm. 81. ISBN 978-961-254-486-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  13. ^ Pusat Data dan Analisa Tempo (2020). Aborigin, Sebuah Suku yang Terbuang. Tempo Publishing. hlm. 11. ISBN 978-623-262-086-5. ; Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  14. ^ Supangat, Agus (November 2011). Jalan-Jalan ke Antartika: Kisah Peneliti Indonesia Pertama di Antartika. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia. hlm. 62. ISBN 978-979-91-0356-7. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement