A Little Life

A Little Life
PengarangHanya Yanagihara
Perancang sampulPeter Hujar (foto)
Cardon Webb (desain)
NegaraAmerika Serikat
BahasaInggris
PenerbitDoubleday
Tanggal terbit
10 Maret 2015
Halaman814
PenghargaanKirkus Prize for Fiction
ISBNISBN 0-385-53925-8
813/.6
LCCPS3625.A674 L58 2015

A Little Life adalah novel terbitan 2015 karya penulis Amerika Serikat Hanya Yanagihara.[1] Mengupas persoalan sulit dan ditulis secara panjang, novel ini meraih pujian kritis, termasuk dipilih sebagai Man Booker Prize dan National Book Awards, serta laris terjual.[2][3]

Berlatar di New York City, ceritanya berpusat pada kehidupan empat orang sahabat yang bergulat dengan masalah penyalahgunaan obat, kekerasan seksual, dan depresi.

Struktur

Penceritaan A Little Life berjalan secara kronologis degan selingan kilas balik. Sudut pandang naratif novel bergeser seiring cerita mengalir. Selama pembuka novel, sudut pandang orang ketiga digunakaan untuk menceritakan Jude, Willem, JB, dan Malcolm. Ketika cerita perlahan menyorot Jude, penceritaan semakin terbentuk sepenuhnya dari interaksi setiap karakter dengan Jude dan pengalaman Jude sendiri. Penceritaan juga diselingi oleh narasi orang pertama yang diceritakan oleh Harold yang lebih tua, sembilan tahun di masa depan.


Buku ini terbagi atas tujuh bagian:

  1. Lispenard Street
  2. The Postman
  3. Vanities
  4. The Axiom of Equality
  5. The Happy Years
  6. Dear Comrade
  7. Lispenard Street

Ringkasan plot

Novel ini berkisah tentang kehidupan empat sahabat: Jude St. Francis, seorang jenius pincang dengan masa lalu misterius; Willem Ragnarsson, seorang pria rupawan dan ramah yang ingin menjadi aktor; Malcolm Irvine, seorang arsitek di firma bergengsi; dan Jean-Baptiste "JB" Marion, pelukis cerdas yang ingin karyanya mendunia. Novel ini menceritakan hubungan mereka yang berubah di bawah pengaruh kesuksesan, kekayaan, kecanduan, and harga diri.

Fokus utama novel adalah pengacara misterius, Jude. Dia menderita kelaianan tulang belakang yang melemahkannya dan memberinya rasa sakit silih berganti pada kakinya. Tanpa sepengetahuan teman-temannya, dia juga sering menyakiti diri sendiri; salah staunya dengan menyayat sehingga Willem membawanya ke Andy Contractor, dokter dan teman kepercayaan Jude. Jelas bahwa ia menderita trauma mental yang melemahkan sedari kecil

Terlepas dari kedekatan dengan teman-temannya, Jude merasa dirinya tidak dapat bercerita detail masa lalunya atau yang dia pikiran sekarang kepada mereka yang menjadi teman sekamarnya. Meski demikian, ia meraih kemajuan dalam pekerjaannya sebagai pengacara, dan dia membangun kedekatan ayah-biu dengan mantan profesornya, Harold, dan sang istri Julia, hingga pasangan itu mengadopsi Julia saat berusia 30 tahun. Meskipun bersyukur, Jude selalu dibayangi masa lalunya sebelum diapdopsi sehingga dia kerap menyakiti diri sendiri, karena merasa diririnya idak layak mendapatkan kasih sayang. Sementara itu, tiga sahabatnya berhasil di bidang mereka masing-masing, dengan Willem menjadi bintang di teater dan film. JB berhasil sebagai seniman, tetapi juga kecanduan sabu-sabu. Mereka mulai mengintervensi Jude, diawali dengan olok-olokan kasar JB atas kepincangan Jude. Terlepas dari penanganan yang berhasil, dan JB meminta maaf berkali-kali tapi Jude tidak memaafkan, Willem juga menolak memaafkannya, mereka akhirnya saling bertikai, hanya Malcolm yang tetap berteman dengan mereka bertiga.

Menjadi jelas bahwa Jude menderita trauma seksual pada masa remaja, membuat dia sulit menjalin hubungan romantis. Temannya dan orang yang dicintainya mulai mempertanyakan pengasingan Jude saat dia memasuki usia empat puluhan, terutama Williem yang kebingungan dengan seksualitas Jude. Rasa kesepian yang terus-menerus membuat Jude terjebak dalam hubungan penuh kekerasan dengan eksekutif mode Celeb, yang tidak nyaman dengan kepincangan Jude dan keseringannya menggunakan kursi roda. Jude akhirnya memutuskan hubungan setelah Caleb memperkosanya, dan mereka bertemu terakhir kali ketika Caleb menyusul Jude ke makan malam bersama Harold, mempermalukannya, dan mengikuti Jude ke apartemennya, berlanjut deengan Caleb memukuli dan memperkosanya dengan brutal, meninggalkannya dalam keadaan hampir mati. Jude tetap menolak melaporkan kejadian itu ke polisi, karena ia merasa pantas menerimanya. Selain Harold, hanya Andy – dokter Jude dan teman kepercayaannya – yang mengetahui apa yang terjadi di balik hubungan mereka yang kandas.

Meskipun tubuh Jude berhasil sembuh, pemerkosaan menyebabkan dia dibayangi oeh masa kecilnya, ketika dia dibesarkan di sebuah biara dan berulang kali diserang secara seksual oleh saudara laki-lakinya. Dia teringat suatu masa ketika salah satu saudaranya, Luke, membawanya kabur, memaksanya terlibat prostitusi anak selama bertahun-tahun. Setelah dia diselamatkan oleh polisi, Jude ditempatkan dalam perawatan negara, tetapi ia tetap dilecehkan oleh para konselor di sana. Trauma masa kecil yang muncuk setelah putus Caleb membuat Jude memutuskan dia bunuh tapi tapi gagal. Setelah kejadian itu, Willem kembali ke rumah dan mulai tinggal bersamanya. Jude tetap menolak terapi tetapi mulai menceritakan kisah-kisah yang paling tidak traumatis—yang tetap saja dianggap Willem mengganggu dan mengerikan. Tak lama kemudian, mereka menjalin hubungan. Sayangnya, Jude tetap kesulitan untuk membuka diri, dan tidak menikmati hubungan seksual dengan Willem..

Hubungan mereka berlanjut, dengan Willem tidur dengan wanita (dan bukan dengan Jude). Keduanya menjalani hidup yang nyaman bersama, yang terguncang ketika kaki Jude makin memburuk, dan ia terpaksa harus diamputasi. Ia berhasil belajar berjalan lagi dengan prostetik baru, dan pasangan ini memasuki masa dalam hidup mereka yang disebut Willem sebagai "Tahun-Tahun Bahagia". Namun, ketika menjemput Malcolm dan istrinya dari stasiun kereta yang datang berkunjung, Willem terlibat dalam kecelakaan mobil dengan pengemudi mabuk, yang menewaskan mereka. Dengan meninggalnya sahabat karib dan kekasihnya, Jude kembali terjerumus ke dalam kebiasaan merusak diri sendiri, kehilangan berat badan yang sangat banyak sehingga orang-orang yang dicintainya yang masih hidup melakukan intervensi lagi. Meskipun mereka mampu membuatnya menambah berat badan dan mengikuti terapi, depresi dan keputusasaan selama bertahun-tahun terus menimpa Jude, dan ia bunuh diri.

Tema

Hubungan laki-laki

Fokus utama dari novel ini adalah perkembangan hubungan antara Jude, Willem, JB, Malcolm dan ayah angkat Jude, Harold. Kehidupan Jude secara keseluruhan diliputi oleh para pria yang mencintai dan peduli padanya, orang-orang yang mengeksploitasi dan melecehkannya, serta mereka yang berada di antara kedua kategori tersebut. Hal ini ditunjukkan sejak dia mengikuti Luke ke rumah kaca, serta saat-saat dia tahu bahwa apa yang dia lakukan di kamar motel itu salah, tetapi masih merasakan dedikasi dan cinta untuk Luke karena hingga saat-saat itu dalam hidupnya, dia adalah satu-satunya orang yang bersikap baik padanya. Kehidupan sosial dan emosional setiap karakter pria adalah jalinan yang menyatukan novel ini, membangun sebuah ruang naratif yang memberi petunjuk tentang peristiwa penting yang menjadi latar belakang cerit..[4]

Trauma, pemulihan, dan dukungan

Dalam sebuah artikel yang ditulis untuk New York Magazine, Yanagihara menyatakan bahwa “salah satu hal yang [dia] ingin lakukan dengan buku ini adalah menciptakan tokoh utama yang tidak pernah sembuh... [baginya] untuk memulai dengan sehat (atau terlihat sehat) dan berakhir dengan sakit – baik karakter utama maupun plot itu sendiri."[1] 16 tahun pertama kehidupan Jude, yang diliputi pelecehan seksual, fisik, dan psikologis, terus menghantuinya saat ia memasuki masa dewasa. Traumanya secara langsung memengaruhi kesehatan mental dan fisiknya, hubungan, kepercayaan, dan cara dia melihat dunia. Dia berjuang untuk melalui dampak yang ditimbulkan oleh masa lalu pada tubuh dan jiwanya.

Menulis di The New Yorker, Parul Sehgal menyebut Jude sebagai “salah satu karakter paling terkutuk yang pernah menghitamkan halaman buku”. Dia melanjutkan,

Cerita ini dibangun di atas kepedulian dan pengabdian yang ditunjukkan Jude kepada mereka yang mendukungnya yang berjuang melindunginya dari kecenderungan merusak dirinya sendiri; sungguh, ada bayi yang mungkin iri melihat tingkat pengabdian yang dia berikan. Loyalitas ini bisa terasa memalukan bagi pembaca, yang merasa terpanggil untuk ikut serta, menjadi saksi atas penderitaan Jude yang tak berkesudahan. Mampukah kita begitu saja terlibat secara emosional dengan sosok yang seperti garis kapur berjalan, penjelmaan halaman DSM? Dalam logika alur trauma, cukup hadirkan luka—dan kita akan percaya bahwa ada tubuh, ada manusia, yang telah menanggungnya.[5]

Melukai diri sendiri dan bunuh diri

Ada tindakan menyakiti diri sendiri yang nyata dalam novel ini, yang digambarkan dengan sangat eksplisit, termasuk deskripsi tentang bagaimana Jude melakukannya dan bagaimana perasaannya saat itu. Kesadaran Harold akan hal ini terasa amat menyakitkan[butuh klarifikasi]—bahkan lebih menyakitkan dibandingkan kabar bahwa Jude akhirnya benar-benar meninggal karena bunuh diri. Penyangkalan Harold terhadap kenyataan tidak menyelamatkan dirinya maupun Jude dari penderitaan; sebaliknya, justru memperparah keduanya.[6] Yanagihara sendiri menyatakan bahwa ia tidak percaya pada terapi bicara, dan bahwa “setiap spesialisasi medis lain yang menangani pasien sakit parah mengakui bahwa pada titik tertentu, tugas dokter adalah membantu pasien untuk mati; bahwa ada saat-saat kematian lebih diinginkan daripada kehidupan.”[7]

Tanggapan

Penerimaan kritis

A Little Life was met with very positive reviews from critics.[2] In 2015, the novel received rave reviews from The New Yorker, The Atlantic and The Wall Street Journal.[8][9][10][11][12] According to Book Marks, the book received a "positive" consensus (or a "A-" from twenty-one critic reviews[13]) based on forty-nine critic reviews: 34 "rave", nine "positive", three "mixed" and three "pan".[14] On the May/June 2015 issue of Bookmarks, the book was scored at four out of five stars. The magazine's critical summary reads: "Richly imagined and written with emotional sensitivity and intelligence, A Little Life – little in no sense of the word – masterfully explores the fragility of all of our existences".[15][16]

In The Atlantic, Garth Greenwell suggested that A Little Life is "the long-awaited gay novel", as "it engages with aesthetic modes long coded as queer: melodrama, sentimental fiction, grand opera. By violating the canons of current literary taste, by embracing melodrama and exaggeration and sentiment, it can access emotional truth denied more modest means of expression".[17]

The New Yorker's Jon Michaud found A Little Life to be "a surprisingly subversive novel – one that uses the middle-class trappings of naturalistic fiction to deliver an unsettling meditation on sexual abuse, suffering, and the difficulties of recovery". He praised Yanagihara's rendering of Jude's abuse, saying it "never feels excessive or sensationalist. It is not included for shock value or titillation, as is sometimes the case in works of horror or crime fiction. Jude's suffering is so extensively documented because it is the foundation of his character". He concluded that the book "can also drive you mad, consume you, and take over your life. Like the axiom of equality, A Little Life feels elemental, irreducible – and, dark and disturbing though it is, there is beauty in it".[8]

In The Washington Post, Nicole Lee described Yanagihara's novel as "a witness to human suffering pushed to its limits, drawn in extraordinary detail by incantatory prose". She wrote that "through insightful detail and her decade-by-decade examination of these people's lives, Yanagihara has drawn a deeply realized character study that inspires as much as devastates. It's a life, just like everyone else's, but in Yanagihara's hands, it's also tender and large, affecting and transcendent; not a little life at all".[18]

Jeff Chu of Vox would "give A Little Life all of the awards". He said that no book he previously read had "captured as perfectly the inner life of someone hoarding the unwanted souvenirs of early trauma – the silence, the self-loathing, the chronic and aching pain" as this one, and found Yanagihara's prose to be "occasionally so stunning" that it would push him "back to the beginning of a paragraph for a second read". As he phrased it, "indeed, A Little Life may be the most beautiful, profoundly moving novel I've ever read. But I would never recommend it to anyone". Chu also said that Yanagihara's descriptions embodied his feelings, citing that "Jude's inability to address his wounds" compelled him to begin to address his own: "his struggle to find his peace emboldened me to try to find mine".[19]

Writing in The Wall Street Journal, Sam Sacks called the story "an epic study of trauma and friendship, written with such intelligence and depth of perception that it will be one of the benchmarks against which all other novels that broach those subjects (and they are legion) will be measured". He said, "what's remarkable about this novel, and what sets it apart from so many books centered on damaged protagonists, is the poise and equanimity with which Ms. Yanagihara presents the most shocking aspects of Jude's life. There is empathy in the writing but no judgment, and Jude's suffering, though unfathomably extreme, is never used to extort a cheap emotional response".[9]

The Los Angeles Times's Steph Cha remarks that "A Little Life is not misery porn; if that's what you're looking for, you will be disappointed, denied catharsis. There are truths here that are almost too much to bear – that hope is a qualified thing, that even love, no matter how pure and freely given, is not always enough. This book made me realize how merciful most fiction really is, even at its darkest, and it's a testament to Yanagihara's ability that she can take such ugly material and make it beautiful".[12]

To NPR contributor John Powers, A Little Life is "shot through with pain", but "far from being all dark"; in fact, it is "an unforgettable novel about the enduring grace of friendship", he concluded.[11] Similarly, in Bustle, Ilana Masad wrote that Yanagihara explored "just what the title implies", which is, "the little bits of the little lives, so big when looked at close up, of four characters who live together in college and keep alive their friendship for decades after", and dubbed the novel "a remarkable feat, far from little in size, but worth every single page".[20]

A notable negative opinion appeared in The New York Review of Books. Daniel Mendelsohn sharply critiqued A Little Life for its technical execution, its depictions of violence, which he found ethically and aesthetically gratuitous, and its position with respect to the representation of queer life or issues by a presumed-heterosexual author.[21] Mendelsohn's review prompted a response from Gerald Howard, the book's editor, taking issue not with Mendelsohn's dislike of the novel but "his implication that my author has somehow, to use his word, 'duped' readers into feeling the emotions of pity and terror and sadness and compassion".[22]

Christian Lorentzen, writing in the London Review of Books, referred to the characters as "stereotypical middle-class strivers plucked out of 1950s cinema".[23] The New York Times book reviewer Janet Maslin also wrote critically of the novel, saying Yanagihara introduces "great shock value into her story to override its predictability".[24] Andrea Long Chu of New York criticized "the masochism [of the book] and its authorial intent", articulating: "Reading A Little Life, one can get the impression that Yanagihara is somewhere high above with a magnifying glass, burning her beautiful boys like ants".[25] Chu later received the Pulitzer Prize for Criticism in 2023 for her article.[26]

Yanagihara appeared on Late Night with Seth Meyers in July 2015 to discuss the book.[27] In 2019, the novel was ranked 96th on The Guardian's list of the 100 best books of the 21st century.[28] In a 2022 review of A Little Life's theatrical adaptation, Naveen Kumar of The New York Times stated that the novel's reputation "has since become more divisive".[29]

Penghargaan

In July 2015, the novel was longlisted for the Man Booker Prize[30] and made the shortlist of six books in September 2015.[31]

Year Award Category Result Ref.
2015 Kirkus Prize Fiction Menang [32]
Man Booker Prize Terpilih [33]
National Book Award Fiction Terpilih [34]
2016 Andrew Carnegie Medal for Excellence Fiction Terpilih [35]
Women's Prize for Fiction Terpilih [36]
2017 International Dublin Literary Award Terpilih [37]

Adaptasi

Perusahaan teater Toneelgroep Amsterdam mendebutkan adaptasi A Little Life oleh Koen Tachlet pada 23 September 2018 di Amsterdam, Belanda. Ivo van Hove menyutradarai adaptasi dengan durasi penayangan selama empat jam.[38] Van Hove berkolaborasi dengan Yanagihara dalam penyusunan naskah setelah awalnya mendapat cetakan buku oleh dua temannya.[39] Ramsey Nasr memainkan pemeran utama Jude St. Francis di adaptasi yang kemudian mendapat ulasan positif.[40] Pengkritik teater Matt Trueman menulis, mesikpun pertunjukkan menggambarkan kekerasan dan trauma yang mendalam, hal tersebut adalah "hasil terbaik karya Van Hove, yang meninggalkan kesan yang mendalam".[41] Produksi bahasa belanda dengan tambahan teks terjemahan bahasa Inggris ditampilkan dalam Festival Edinburgh Internasional 2022,[42] pada Otober 2022 bertempat di Brooklyn Academy of Music,[43] dan pada Maret 2023 bertempat di Adelaide Festival.[44]

Pada Agustus 2020, perusahaan teater Liver & Lung menyajikan adaptasi musik tak resmi A Little Life di Kuala Lumpur, Malaysia.[45] Tujuh lagu dari album telah dirilis pada aplikasi Spotify pada 7 Januari 2022, untuk merayakan diterbitkannya novel baru Yanagihara, yang berjudul To Paradise.[46]

Adaptasi panggung bahasa Inggris versi Tachelet tayang pada 14 Maret 2023 di Teater Richmond di South West London, diikuti dengan penayangan pada West End di Teater Harold Pinter dan Savoy Theatre.[47][48] Adaptasi teater ini difilmkan ketika dipentaskan pada Savoy Theatre, yang kemudian dirilis di bioskop untuk penayangan terbatas pada tanggal 28 September 2023.[49]

Referensi

  1. ^ a b Yanagihara, Hanya (28 April 2015). "How I Wrote My Novel: Hanya Yanagihara's A Little Life". Vulture.com. Diakses tanggal 18 July 2015.
  2. ^ a b Maloney, Jennifer (3 September 2015). "How A Little Life Became a Sleeper Hit". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 13 October 2015.
  3. ^ "Book Marks reviews of A Little Life by Hanya Yanagihara". Book Marks. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-03-16. Diakses tanggal 20 September 2022.
  4. ^ McCann, Sean (3 June 2016). "'I'm So Sorry': A Little Life and the Socialism of the Rich". Post45.org. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2021-07-31. Diakses tanggal 26 February 2017.
  5. ^ Sehgal, Parul (January 3 and 10, 2022). "The Key to Me: Fiction writers love it. Filmmakers can't resist it. But the trauma plot is wearing thin." The New Yorker. p. 65.
  6. ^ Rushton, A. (2019). A Bubble in the Vein: Suicide, Community, and the Rejection of Neoliberalism in Hanya Yanagihara's A Little Life and Miriam Toews's All My Puny Sorrows. In World Literature, Neoliberalism, and the Culture of Discontent (pp. 195-213). Palgrave Macmillan, Cham. [1]
  7. ^ electricliterature (2015-05-21). "An Interview with Hanya Yanagihara". Electric Literature (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-03-16.
  8. ^ a b Michaud, Jon (28 April 2015). "The Subversive Brilliance of A Little Life". The New Yorker.
  9. ^ a b Sacks, Sam (6 March 2015). "Fiction Chronicle: Jude, the Obscure". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 17 July 2015.
  10. ^ Anshaw, Carol (30 March 2015). "Hanya Yanagihara's A Little Life". The New York Times. Diakses tanggal 18 July 2015.
  11. ^ a b Powers, John (19 March 2015). "A Little Life: An Unforgettable Novel About the Grace of Friendship". NPR. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-03-20. Diakses tanggal 18 July 2015.
  12. ^ a b Cha, Steph (19 March 2015). "A Little Life: a darkly beautiful tale of love and friendship". Los Angeles Times. Diakses tanggal 18 July 2015.
  13. ^ "A Little Life". Book Marks. Diarsipkan dari asli tanggal 16 Oct 2016. Diakses tanggal 12 July 2024.
  14. ^ "A Little Life". Book Marks. Diakses tanggal 16 January 2024.
  15. ^ "A Little Life". Bookmarks. Diakses tanggal 14 January 2023.
  16. ^ "A Little Life". Bibliosurf (dalam bahasa Prancis). 4 October 2023. Diakses tanggal 4 October 2023.
  17. ^ Greenwell, Garth (31 May 2015). "A Little Life: The Great Gay Novel Might Be Here". The Atlantic.
  18. ^ Lee, Nicole (2015-04-10). "Book review: A Little Life, by Hanya Yanagihara, inspires and devastates". The Washington Post. Diakses tanggal 1 November 2021.
  19. ^ Chu, Jeff (2015-10-14). "A Little Life is the best novel of the year. I wouldn't recommend it to anyone". Vox. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-10-15. Diakses tanggal 2021-11-01.
  20. ^ Masad, Ilana (2015-03-10). "Hanya Yanagihara's A Little Life Is Far from Little in Size, but It's Worth Every Single Page". Bustle. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2015-03-13. Diakses tanggal 2021-11-01.
  21. ^ Mendelsohn, Daniel (3 December 2015). "A Striptease Among Pals". The New York Review of Books. Diakses tanggal 24 February 2016.
  22. ^ Howard, Gerald (17 December 2015). "Too Hard to Take". The New York Review of Books. Diakses tanggal 24 February 2016.
  23. ^ Lorentzen, Christian (24 September 2015). "Sessions with a Poker". London Review of Books. hlm. 32–33.
  24. ^ Maslin, Janet (2015-09-30). "Review: A Little Life, Hanya Yanagihara's Traumatic Tale of Male Friendship". The New York Times (dalam bahasa American English). ISSN 0362-4331. Diakses tanggal 2024-06-07.
  25. ^ Chu, Andrea Long (2022-01-12). "Hanya's Boys". Vulture (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2023-06-12.
  26. ^ "Andrea Long Chu of New York Magazine". www.pulitzer.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-12.
  27. ^ Hollander, Sophia (16 July 2015). "Seth Meyers's Late Night Literary Salon". The Wall Street Journal. Diakses tanggal 18 July 2015.
  28. ^ "The 100 best books of the 21st century". The Guardian. 21 September 2019. Diakses tanggal 22 September 2019.
  29. ^ Kumar, Naveen (October 26, 2022). "A Little Life Review: A Collage of Unrelenting Torment". The New York Times. Diakses tanggal October 27, 2022.
  30. ^ "Man Booker Prize announces 2015 longlist". Diarsipkan dari asli tanggal 10 August 2015. Diakses tanggal 5 August 2015.
  31. ^ "Pulitzer winner makes Booker Prize shortlist". BBC News. 15 September 2015. Diakses tanggal 15 September 2015.
  32. ^ "2015 Finalists: fiction | Kirkus Reviews". Kirkus Reviews (dalam bahasa American English). Diarsipkan dari asli tanggal 2018-07-06. Diakses tanggal 2016-02-29.
  33. ^ "The Man Booker Prize 2015 | The Man Booker Prizes". themanbookerprize.com. Diarsipkan dari asli tanggal 2016-02-29. Diakses tanggal 2016-02-29.
  34. ^ "2015 National Book Awards". www.nationalbook.org. Diakses tanggal 2016-02-29.
  35. ^ "2016 Carnegie Medals Shortlist Announced". American Libraries. October 19, 2015. Diakses tanggal November 15, 2015.
  36. ^ "2016 Women's Prize for Fiction Shortlist Revealed". Women's Prize for Fiction. April 11, 2016.
  37. ^ "The 2017 Shortlist". International Dublin Literary Award. 12 April 2017.
  38. ^ "Een klein leven". Toneelgroep Amsterdam. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-09-21. Diakses tanggal 2021-01-12.
  39. ^ Siegal, Nina (2018-09-21). "A Little Life Comes to the Stage. The Audience Can't Look Away". The New York Times. Diakses tanggal 2022-12-10.
  40. ^ D'Addario, Daniel (2022-10-21). "A Little Life Review: Director Ivo van Hove Draws Blood and Tears at BAM". Variety (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2022-12-11.
  41. ^ Trueman, Matt (September 28, 2018). "A Little Life, Stadsschouwburg, Amsterdam – a world of pain". Financial Times. Diarsipkan dari versi aslinya tanggal 2018-09-30. Diakses tanggal 2021-01-12.
  42. ^ Mark Fisher (August 21, 2022). "A Little Life review – Hanya Yanagihara drama is not for the faint-hearted". The Guardian. Diakses tanggal October 21, 2022.
  43. ^ Sarah Bahr (June 2, 2022). "BAM's Next Wave Festival Returns With an Ivo van Hove Production". The New York Times. Diakses tanggal October 21, 2022.
  44. ^ "A Little Life - Adelaide Festival". www.adelaidefestival.com.au (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2023-06-12.
  45. ^ "Showbiz: Cammie-winning theatre company to stage KL's first post-MCO musical". New Straits Times. 30 July 2020.
  46. ^ Rabinowitz, Chloe. "Songs Inspired by A Little Life: Concept Album Released". BroadwayWorld. Diakses tanggal 20 January 2022.
  47. ^ Wood, Alex (23 November 2022). "A Little Life to run in the West End with James Norton, Omari Douglas, Luke Thompson and Zach Wyatt". WhatsOnStage.com. Diakses tanggal 24 November 2022.
  48. ^ Akbar, Arifa (5 April 2023). "A Little Life review – James Norton's sexually abused lawyer is spared no misery". The Guardian.
  49. ^ "A Little Life cinema trailer released featuring James Norton, Luke Thompson & cast". West End Theatre. 17 August 2023.

Pranala luar

Konten ini disalin dari wikipedia, mohon digunakan dengan bijak.

×
Advertisement